Selasa, 23 Februari 2010

PERENCANAAN PEMBUATAN JALAN SARAD

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pemanenan kayu konvensional merupakan teknik pemanenan yang selama ini dipergunakan dalam pengelolahan hutan, dimana ada kecenderungan pemanenan tidak tepat dan kurang terkontrol. Hal ini dapat dilihat dari :

  1. Jaringan jalan sarad dan arah rebah yang tidak direncanakan dalam peta dan pada saat operasi pembangunan

  2. Teknik penebangan belum tepat (taktik rebah dan taktik balas terlalu tinggi)

  3. Operator chainsaw dan operator penyarad belum terkoordinasi satu sama lain tanpa menggunakan peta sebaran pohon
(Muhdi, 2002).
Untuk mengurangi kerusakan pada pohon dan kerugian ekonomi dari kegiatan operasional penyadaran traktor maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan rancangan jalan sarad yang dirancang sebelumnya ternyata lebih menguntungkan dari segi ekonomi dan segi ekologi. Jalan sarad yang dirancang sebelumnya juga akan memudahkan penebang untuk mengarahkan kayu yang akan ditebang sehingga akan lebih mudah bagi traktor untuk menyaradnya tanpa membuat manuver-manuver yang akan merugikan (Elias, 1997).
Pada saat ini teknologi untuk meminimalkankan kerusakan lingkungan akibat akibat penebangan kayu yang sudah ada yakni yang dikenal dengan Reduced Impact Logging Elias mengemukakan bahwa sistem penggunaan logging yang kurang terencana, teknik operasi yang kurang tepat atau terencana akan mengakibatkan kerusakan lingkungan (hutan rusak, pemadatan tanah dan terjadinya pengendapan akibat terjadinya erosi tanah). Untuk meminimalkan kerusakan tersebut dilakukan dengan merencanakan logging yang baik dan teknik operasi yang tepat dan terkendali. Reduced Impact Logging adalah pemanenan kayu yang didasarkan pada rancangan kedepan dari tegakan yang akann dipanen yang didasari rencana yang akurat untuk digunakan dalam perencanaan dan digunakan untuk mendisain lay out dari petak-petak tebang dan unit-unit inventarisasi serta digunakan untuk merencanakan operasi pemanenan kayu seperti ini :

  1. Peta sebaran pohon dan peta topografi untuki merencanakan pemanenan kayu diatas peta dan pedoman untuk penebangan dan penyandaran didalam operasi pemanenan kayu

  2. Peta pemanenan kayu berisi :

    1. arel topografi

    2. areal yang dilindungi

    3. letak pohon yang berdiameter > 20 m.

  3. pemotongan sebelum pemanenan kayu

  4. pelatihan pekerja secara rutin, pengawasan, pemeriksaan dan inspeksi blok

  5. Upah dan premi operator penebangan dan penyarad sesuai dengan kualitas
kerja yang telah dilakukan.
Intensitas penebangan semakin besar menyebabkan semakin rumpang yang terbentuk semakin besar pula seperti pada plot dengan intensitas penebangan 6 pohon menimbulkan rumpang seluas 1054,1 m2 (10,54%) dan plot 2 seluas 863 m3 (8,63%) dengan intensitas penebangan pohon yang ditebang menimbulkan luas keterbukaan lahan yang lebih besar yakni rata-rata 1422m2 (14,22%) hal ini yang menyebabkan pohon yang ditebang meluncur kebawah dan tidak terarah/ tidak terkonsentrasi. Luas keterbukaan lahan yang terbentuk tidak begitu luas jika pohon yang ditebang mengelompok, sehingga jatuhnya tajuk dapt diarahkan pada satu arah (Warpani, 1990).

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Perencanaan Jalan Sarad adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui panjang dan luas sarad baik galian utama atau galian cabang

  2. Untuk mengetahui produktifitas jalan sarad

  3. Untuk mengetahui rasio pohon yang terangkut

  4. Untuk mengetahui rasio kerusakan tegakan tunggal

  5. Untuk mengetahui rasio keterbukaan areal sementara

  6. Untuk mengetahui rasio keterbukaan areal pemanenan
TINJAUAN PUSTAKA

Penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu (Tpn) atau ke pinggir jalan angkutan. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengangkutan jarak pendek (Muhdi, 2006).
Untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan tinggal) yang ditimbun oleh kegiatan penyaradan kayu, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai dengan rute penyaradan yang sudah direncanakan diatas peta kerja, selainitu juga dimaksudkan agar prestasi kerja yang dihasilkan cukup tinggi. Perencanaan jalan sarad ini dilakukan satu tahun sebelum kegiatan penebangan dimulai. Letak jalan sarad ini harus ditandai di lapangan sebagai acuan bagi pengemudi atau penyarad kayu. Hal ini berlaku untuk penyaradan yang menggunakan traktor (Muhdi, 2006).
Perencanaan jalan sarad hutan adalah salah satu titik vital pembukaan wilayah hutan. Hal ini jelas karena pembukaan wilayah hutan pada dasarnya adalah pembangunan sarana-sarana dan prasarana dari dalam hutan keluar kawasan dan selanjutnya dimanfaatkan. Salah satu sarana yang penting adalah jalan sarad hutan yang akan dibuat merupakan hasil perhitungan agar jalan yang akan direncanakan dibangun dapat memenuhi persyaratan dan dinilai cukup optimal untuk jumlah total luas kawasan yang dibuka (Meyer, 1981).
Pembukaan wilayah hutan adalah kegiatan penyediaan prasarana bagi kegiatan produksi kayu dan pembinaan hutan. Jalan hutan adalah jalan agkutan yang diperlukan untuk mengengkut hasil hutan ketempat pengumpulan hasil hutan (TPN/TPK) atau tempat pengolahan hasil hutan. Jalan induk adalah jalan yang dapt digunakan 5-20 tahun secara terus menerus. Jalan cabang adalah jalan hutan yang dapt dipergunakan untuk penyandaran kayu bulat (log) selama 1 tahun swecara terus menerus (Muhdi, 2002).
Jalan diperlukan untuk hampir semua operasi penebangan kayu, pelaksanaan penebangan komersial biasanya dirancang oleh ahli kehutanan yang harus mempertimbangkan sistem silvikulturis apa yang dipakai. Kebutuhan uintuk membersihkan bekas tebangan serta persiapan lahan dan metode pelaksanaannya dan cara penebangan kayu yang akan dicapai. Pembuatan jaringan jalan sarad dibuat seperti percabangan pohon untuk memperkecil jumlah pohon cacat. Arah jalan sarad diberi tanda dengan cat dipohon, jalan sarad tertentu menelusuri punggung, panjangnya 100-700 m dari TPK jaln sarad bermuara di TPK dan TPK berada ditepi jalan (Elias, 1997).
Standar pemilihan jalan hutan yang dipakai adalah dengan melalui dari bverbagai perhitungan. Terlalu tingginya standar jalan yang dipilih diperoleh dari jalan tersebut. Tetapi telalu rendahnya stabndar jalan yang dipergunakan akan membuat biaya operasi menjadi lebih tinggi dan pemeliharaan jalan akan mahal. Harus selalu diingat dan dipertimbangkan tingkat kekerasan topografi dan standar jalan yang diinginkan. Jaringan jalan yang tepat akan menghasilkan penghematan biaya operasional yang lebih besar (Darussalam, 1998).
Dengan adanya pembuatan alur dan jalan sarad tersebut maka jenis apapuin yang tidak diketahui ataupun yang merintangi rencana alur dan jalan sarad dipotong-potong untuk memudahkan proses penyaratan. Hal ini akan menghindari dari kerusakan pohon-pohon yang berada disekitar jaln sarad berupa penarikan kayu menuju tempat pengumpulan kayu (TPN). Pembuatan plot-plot penelitian dilakukan pada daerah yang memilki topografi datar dan terjal masing-masing sebanyak dua plot (Budiman, 1996).
Perencanaan pembukaan wilayah hutan yang baik akan mengakibatkan kegiatan yang akan dilakukan berjalan dengan baik mulai dari awal sampai dengan akhir jalan hutan yang membuka wilayah hutan secara merata dan menyeluruh sehingga menghasilkan pembukaan wilayahyang tinggi dengan kerapatan wilayah jalan optimal. Kegaitan pemanenan hutan adalah kegiatan yang mengeploitasi hasil hutan berupa kayu maupun bukan kayu. Kegiatan ini akan sangat memberikan keuntungan ekonomi yanmg sangat besar. Tetapi jika kegiatan ini dilakukan dengan satu perencanaan yang tidak baik, maka akan berdampak ekologis dikawasan hutan tersebut (Warpani, 1998).
Dalam pelaksaan jaringan jalan sarad dipasang rambu-rambu lalulintas sesuai denagn kepentingan. Jalan-jalan secara keseluruhannnya harus merupakan satu kesatuan jaringan jalan sarad yang dapat menjadi hasil guna segala perhubungan dan pengangkutan jalan yang dipakai. Dalam hail ini jaringan jalan yang berada didalam atau diluar unit juga harus mampu membuat keseluruhan jalan tersebut menjadi satu kesatuan jaringan jaln. Jaringan jalan yang dimaksud adalah kegiatan penyandaran kayu gelondongan hasil penebangan baik dihutan tanah kering maupun dihutan rawa menggunakan alat atau menekan sekecil mungkin dan kerusakan yang terjadi pada pohon (Elias, 1997).
Penyaradan kayu dengan menggunakan trktor sangat popular dalam kegiatan pemanenan kayu di hutan alam (HPH) di Indonesia. Penyaradan dengan cara ini sudah dimulai pada tahun 1970-an. Untuk menghindari kerusakan lingkungan, penggunaan traktor pada daerah yang mempunyai lereng lebih dari 30%, walaupun secara mekanis traktor masih mampu bekerja pada kemiringan sampai 40% (Muhdi, 2006).





















METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Pada praktikum yang berjudul “ Perencanaan Pembuatan Jalan Sarad “ ini dilakukan pada hari kamis, Oktober 2009, pada pukul 14.00 – 16.00 Wib di gedung Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara.

Bahan dan Alat
Adapun Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah

  1. Peta kontur sebagai objek praktikum

  2. Buku data untuk tempat menulis data

Adapun Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah

  1. Penggaris 1 m dan 30 cm untuk menggaris dan mengukur jarak

  2. Penggaris busur untuk mengukur sudut

  3. Jangka untuk membentuk lingkaran

  4. Pensil unutuk membuat garis jalan pad peta atau sebagai alat gambar

  5. Penghapus untuk menghapus bagian yang salah

  6. kalkulator untuk menghitung

Prosedur Praktikum
Prosedur yang digunakan dalam praktikum ini adalah

  1. dibuat perencanaan jalan sarad dengan ketentuan batas batasnya adalah sebagai berikut

  1. tidak melalui topografi yang curam

  2. jalan sarad terjauh disesuaikan dengan kemampuan alat (umumnya 700 m) atau dengan perhitungan ekonomis

  3. jarak sarad mengarah pada satu titik TPN (landing)

  4. tpn berada dipinggir jalan angkutan

  5. yang disarad adalah pohon

  6. radius belokan minimal 100m

  7. pada jalan sarad jabang direncanakan maksimal 4 kali lintasan atau 4 trip

  1. perhitungan

  1. panjang jalan sarad utama dan panjang jalan sarad cabang

  2. jumlah pohon potensial yang dapat ditebang

  3. jumlah pohon potensial yang dapat disarad

  4. jumlah tegakan tinggal potensial

  5. jumlah tegakan tinggal potensial terkena jalan sarad, baik jalan utama maupun jalan cabang

  1. dibuat analisa untuk mengefisien pengkuran rencana jalan sarad yaitu dihitung
a. rasio pohon terangkut RPT = jumlah pohon terangkut x 100 %
jumlah pohon potensial dpt ditebang
b. rasio kerudsakan tegakan tinggal (RKTT) =
jumlah tegakan tinggal terkena jalan sarad x 100 %
jumlah tegakan tinggal potensial
c. Rasio keterbukaan areal permanen RKAP =
lebar x panjang jalan sarad utama x 100 %
luas petak tebang
d. Rasio keterbuakaan areal sementara RKAS =
lebar x panjang jalan sarad cabang x 100 %
luas petak tebang
e. produktifitas jalan sarad PJS = jumlah pohon terangkut (pohon/km)
panjang jalan sarad
4. hasil dimasukkan dalam tabel sbb
TPN
Panjang Jalan Sarad
Jumlah Pohon Potensial yang Dapat Terangkut
Jumlah Pohon Terangkut
Jumlah Tegakan Tinggal Terkena Jalan Sarad
Jumlah Tegakan Tinggal Potensial
Utama (m)
Cabang (m)

No
TPN ke
RPT (%)
RKTT (%)
RKAP (%)
RKAS (%)
PJS km/pohon
1
I










Tabel tolak ukur pemilihan alternatif


No
Rasio
Tolak ukur
1
Pohon terangkut (RPT) 80 % atau yang terbesar
2
Kerusakan tingkat tinggi (RKTT) < 20 % atau yang terkecil
3
Keterbukaan areal pemanenan (RKAP) < 3 % atau yang terkecil
4
Keterbukaan areal sementara (RKAS) < 4 % atau yang terkecil
5
Produktifitas jalan sarad Yang terbesar


























HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 1. Pengamatan
TPN
Panjang Jalan Sarad
Jumlah Pohon Potensial yang Dapat Terangkut
Jumlah Pohon Terangkut
Jumlah Tegakan Tinggal Terkena Jalan Sarad
Jumlah Tegakan Tinggal Potensial
Utama (m)
Cabang (m)
1
5.750
3.500
39
33
2
31
2
4.000
4.800
67
57
9
48
3
4.200
4.600
64
43
4
39
4
4.200
5.300
71
65
7
58
5
4.400
6.300
69
60
3
57
6
3.850
3.950
64
46
3
43
7
450
3.500
81
70
4
66

Tabel 2. Perencanaan jalan sarad
TPN
RPT
RKTT
RKAP
RKAS
PJS (phn/ha)
1
2
3
4
5
6
7
84,62%
85,07%
67,19%
91,55%
86,96%
71,88%
86,42%
6,45%
18,75%
10,26%
12,07%
5,26%
6,98%
6,06%
1,30%
0,90%
0,95%
0,95%
1,00%
0,87%
0,10%
0,79%
1,09%
1,04%
1,20%
1,43%
0,89%
0,79%
4
6
5
7
6
6
18

Pembahasan
Dalam perencanaan jalan sarad, baik jalan sarad utama atau jalan sarad sekunder harus mampu menjnagkau lebih atau sama dengan 80% dari pohon yang potensial ditebang. Hal yang diseimbangi dengan pembuatan jalan jangan sampai dana membuat jalan sarad utama, namun tidak menjangkau banyak pohon yang sarad sehingga dalam perencanaan jaln sarad perlu melihat keefektifan jalann. Hal ini didukung oleh pernyataan Elias bahwa pola jaringan jalan hutan hendaknya merata dan menyeluruh.
Tegakan tinggal merupakan pohon inti, yang siap dipanen untuk waktuyang akn datang sehingga keberadaannya sangat banyak. Dari hasil terbesar RKTT didapat adalah pada TPN 2 sebesar 18,75%. Namun hal ini tidak bermasalah karena toleransi RKTT 20% sedangkan pada yang terkecil pada TPN 5 yaitu 5,26%.
Areal pemanenan merupakan jalan sarad utama karena jalan ini merupakan aeral utama untuk pemanenan kayu disetiap TPN, sehingga jalan sarad utama harus menjangkau seluruh TPN. Sedangkan jalan sarad cabang / sekunder dapt berubah-ubah sesuai dimana pohon potensial berada. Syarat jalan cabang atau sekunder adalah maksimum empat kali lintasan. Alas an pembuatanseperti ini karena alat angkut kayu adalah alat berat sehingga kerapatan yang tinggi (perjalanan keadaan) pada tanah akan menyebabkan fisik tanah rusak sehingga sulit diolah dan ditangani nantinya. Jadi toleransi tertinggi empat kali.
Pembuatan jalan sarad harus menghindari areal yang sangat besar (>40%) karena sulit dijangkau oleh kendaraan dan resiko kecelakaan sangat tinggi. Hal ini didukung oleh pernyataan Muhdi (2002) bahwa perencanaan jalan sarad tidak melalui topografi yang curam ( kelerengan >40%).













KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Syarat utama pembuatan jalan sarad adalah mampu menjangkau seluruh TPN dan merata.

  2. Semakin tinggi nilai produktifitasnya jalan sarad (PJS), semakin efektif jalan sarad yang dibuat.

  3. Pembuatan jalan sarad harus menghindari areal bertopografi dengan areal >40%.

  4. Jalan sarad yang baik adalah jalan yang mampu menyarad >80% dari total pohon potensial yang ditebang ditiap TPN dan menghasilkan kerusakan tegakan tunggal <20%.

  5. jalan sarad bertujuan untuk mengetahui produktifitas, rasio kerusakan, pohon yang terangkut, dan untuk mengetahui rasio kerusakan keterbukaan lahan.

  6. Dari hasil RPT terbesar terdapat pada TPN 4, RKAP terbesar terdapat pada TPN 1, RKAS terbesar pada TPN 5 dan PJS terbesar pad TPN 7.

Saran
Sebelum membuat beberapa TPN, batasan dan arah TPN lebih jelas agar pada saat pembuatan jalan sarad mudah, kehati-hatian dan ketelitian sangat dibutuhkan dalam hal ini agar memberi hasil yang baik.











DAFTAR PUSTAKA
Budiaman, A. 1996. Dasar-Dasar Teknik Pemanenan Kayu Untuk Program Pendidikan Pelaksanaan Pemanenan Kayu. Diktat Kuliah Institut Pertanian Bogor. Bogor
Darusalam. 1998. Keterbukaan Tegakan Akibat Pembuatan Jalan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosek Kehutanan. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor Indonesia
Meyer, C.F., and D.W Gibson. 1984. Survei dan Perencanaan Lintas Jalur. Edisi Kelima. Diterjemahkan oleh Koesdiono. Erlangga. Jakarta
Muhdi. 2002. Penuntun Praktikum Pemanenan Hasil Hutan. USU. Medan.
Muhdi. 2006. Pemanenan Hasil Hutan (Buku Ajar). USU. Medan.
Warpani, S. 1990. Merencanakan Sistem Pengangkutan. Institut Teknik Bandung Press. Bandung


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar