Selasa, 09 November 2010

PINTU KAYU/ WOOD DOOR

Pintu
Pintu merupakan penghubung antara satu ruangan dan ruangan yang lain. Sebab itu pemilihan materialnyapun harus disesuaikan dengan fungsi ruang yang diwadahinya. Dominasi pemakaian bahan tertentu tidak identik dengan tingkat kepopuleran bahan tertentu. Hal ini lebih berhubungan dengan kebutuhan sang arsitek.
Pintu Kayu
Pintu yang terbuat dari kayu merupakan jenis pintu yang paling umum dan paling banyak dipakai dari dulu hingga sekarang beberapa perkembangan dan modifikasi desain telah berkembang. Jika dulunya pintu kayu terbuat dari kayu utuh, sekarang hanya beberapa bagian tertentu saja yang dianggap struktural yang terbuat dari kayu utuh, sisanya material yang lain. 
Lzimnya, pintu dai kayu utuh tidak memerlukan rangka lagi. JIka semuanya terbuat dari kayu utuh, pastilah bidang pintu tersebut menjadi berat. Dengan begitu, engselnyapun harus lebih kuat.
Dalam pembuatan pintu hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah kuat pegang sekrup (KPS). Pintu yang dibuat harus memiliki celah pada bagian bawah agar terjadi penyesuaian kembang susut pada kayu.

TIANG KAYU/ TRUSSES


TIANG KAYU

Gambaran Umum Tiang Kayu Industri
Tiang kayu banyak digunakan di berbagai negara, karena strukturnya yang kompleks dan relatif mudah diaplikasikan. Biasanya, tiang kayu yang digunakan dalam konstruksi komersial gergajian atau kayu laminasi. Sering disebut sebagai sebuah balok sistem rangka, tiang ini biasanya ditempatkan 12-20 ft (3,66-6,10 m) pada pusat dengan kayu. Sistem lain yang menggunakan tiang kayu termasuk lengkungan terikat, bingkai portal, dan lengkungan kaku.
Beberapa konfigurasi tiang kayu yang berat umumnya digunakan pada konstruksi berat. Konstruksi rangka kayu dibuat dengan menggabungkan kompresi kayu berat dengan batang baja atau kabel secara vertikal sehingga menimbulkan ketegangan.
Meskipun paling sering dikaitkan dengan konstruksi bangunan, kayu yang berat efektif digunakan dalam konstruksi jembatan kayu. Dengan jarak yang relatif luas dalam sistem rangka kayu berat, tiang masing-masing dianggap sebagai elemen struktur primer dengan sedikit beban antara tiang. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tiang adalah efek durasi beban, kadar air, dan ukuran pada kekuatan utamanya. Hasil tersebut akan menunjukkan banyaknya tegangan yang bekerja pada tiang tersebut. Konsekuensi dari kurangnya informasi kualitatif oleh desainer rangka awal akan mengakibatkan turunnya kemampuan tiang dalam menahan beban.
Dalam banyak kasus sulit untuk mengidentifikasi penyebab sesungguhnya dari marabahaya, karena mungkin berkaitan dengan perubahan kadar air dan penyusutan yang selanjutnya berdampak terhadap tekanan, beban yang berlebihan disebabkan oleh sejumlah faktor lingkungan, perubahan penggunaan bangunan, fabrikasi yang tidak benar, lama- jangka waktu efek beban, suhu tinggi dapat terjadi di ruang loteng, atau faktor lain dengan akan mempengaruhi kapasitas beban pikul.
Waktu, pengalaman, dan studi yang cukup telah dikombinasikan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas dari kegagalan mekanisme yang terlibat dalam tiang kayu berat, sehingga memungkinkan desainer untuk menganalisis struktur sistem ini lebih efektif. Selain menggunakan bentuk-bentuk tradisional tiang kayu yang berat, desainer menggabungkan pengetahuan peningkatan kinerja komponen rangka individu dengan teknologi komputer.
Pengenalan konektor pelat logam dengan gigi yang tidak terpisahkan sebagai perangkat koneksi untuk tiang kayu dikombinasikan dengan teknologi manufaktur yang mampu memproduksi berkesinambungan menggunakan sendi struktural akhir telah menyebabkan filosofi desain baru dalam tiang kayu. Tiang kayu ringan dipasang relatif dekat pada pusat sehingga beban pikul lebih ringan Pada dasarnya, koneksi ini melibatkan penggunaan dua lempeng logam konektor yang diinstal oleh fisik yang menekan tiang ke dalam sisi berlawanan dari rangka bersama sehingga efektif mentransfer beban dari satu anggota ke yang lain berdasarkan nilai yang diijinkan per inci persegi dari pelat.

Pembebanan pada Tiang
Dalam tiang kayu, beban diaplikasikan dengan berbagai macam cara dengan penyebaran pembebanan yang berbeda.
Beban mati
Beban mati dikenakan pada bagian struktural adalah berat untuk semua bahan komponen bangunan dalam perakitan struktural yang didukung oleh bagian strukturalnya. Satuan yang umum digunakan dalam pembebanan inia adalah pons per kaki persegi (newton per meter kuadrat). Contoh pembebanannya seperti: dinding atap dan lantai.
Beban hidup
Beban hidup dikenakan pada suatu objek struktural selama periode pembebanan tertentu. Dalam beberapa aplikasi, tiang lantai kayu memiliki pembebanan yang tidak seragam pada satu titik tertentu saja.
Beban salju
Beban salju adalah beban yang terjadi pada atap bangunan, yang diberikan beban diatasnya. Artinya, pembebanannya tidak menentu tergantung kondisi lingkungan sekitar. Beban salju yang menimpa atap kayu, yang akan memberikan tekanan atau tegangan pada tiang kayu bangunan.

Beban Angin
Pembebanan ini terjadi pada lingkungan eksternal, yang ditimbulkan oleh angin. Angin akan memberikan tekanan pada atas atap sehingga menimbulkan tekanan pada tiang. Selain tekanan yang ditimbulkan pada bagian atas, angin juga memberikan pembebanan dari bagian samping tiang kayu.
Beban seismik
Tegangan seismik terjadi akibat tekanan secara horizontal maupun vertikal yang diaplikasikan pada lantai atau atap di atas bidang dasar. Pembebanan secara horizontal akan memberikan efek terhadap pembebanan maksimum.
Beban ereksi
Beban ereksi timbul dari pembebanan yang terjadi pada bagian tiang yang pembebanannya selalu meningkat bobtnya.
Beban kolam
Desain pada pembebanan ini berada pada lantai atau lantai atap. Pembebanannya terjadi akibat curahan air hujan. Permukaan atap yang lebar akan memberikan pembebanan pada atap yang lebih ringan dibandingkan pada permukaan atap yang sempit, karena curahan hujan terbagi pada tiap bagian atap, sehingga pembebanan pada tiang juga menjadi cukup kecil nilainya.
Beban lainnya
Umumnya pembebanan ini, merupakan pembebanan yang sifatnya mekanis. Contoh pembebanan pada lantai yang dibebani beban diatasnya.
Lamanya pembebanan
Lama pembebanan yang normal biasanya sekitar 10 tahun, yang biasanya terjadi pada aplikasi lantai. Pada tiang atap akan meningkat 15% untuk pembebanan salju, 25% pembebanan tanpa beban salju, dan 60% pada pembebanan seismik.

Pertimbangan Ekonomi pada Sistem Tiang Kayu
Sistem bobot kayu tiang
Ada 2 variabel yang memiliki pengaruh primer pada pembiayaan bobot kayu pada aplikasi tiang. Pertama, rancangan arsitektur, dan kedua adalah efisiensi struktur yang digunakan.
Sistem Tiang Kayu Ringan
Beberapa desain primer yang menjadi parameter evaluasi dengan interaksi efisiensi struktural dan pembiayaan pada sistem tiang yang menggunakan kayu ringan adalah:
  1. Desain pembebanan dan kerusakan pada tiang
  2. Tekanan maksimum yang diinginkan pada tiang kayu
  3. Jarak maksimum pada tiang kayu
  4. Kedalaman tiang kayu
  5. Lokasi elemen pembebanan tiang kayu
  6. Sistem rute mekanis tiang yang mendukung struktur
  7. Pertimbangan fondasi dan dinding pendukung
  8. Unit mekanika

Kebakaran dan Keselamatan pada Bangunan
Tipe konstruksi
Pada umumnya bangunan di Amerika Utara menggunakan tiga tipe tiang pada bangunannya seperti penggunaan kayu berat, biasa dan rangka konstruksi. Ukuran bagian minimum yang diperlukan, konstruksi kayu berat diasumsikan memiliki daya tahan api sesuai dengan tingkat hunian, luas bangunan, dan lain-lain.
Kebakaran dan pengendaliannya
Ketika api mulai padam, ruang tiang yang terletak kayu struktural dan konstruksi langit-langit dapat bertindak sebagai cerobong horizontal yang mengeluarkan api dan asap akibat kebakaran.
Sistem pemadaman dan desain kayu tiang
Efek struktural dari sistem penyemprotan sering tidak teratasi. Sistem tata letak akhir penyemprotan harus disesuaikan pada saat desain struktural. Namun, tata letak awal dan ukuran garis maksimum biasanya dapat diperoleh dengan tegangan yang sesuai yang disediakan dalam desain rangka kayu sehingga proses pemadamannya lebih baik.


Perlakuan penggunaan bahan anti api pada tiang kayu
Penggunaan bahan ini sangat penting digunakan guna menghindari kebakaran pada bangunan. Beberapa bahan anti api memiliki batasan penggunaan sesuai dengan tipe konstruksinya. Anti api sangat signifikan mereduksi kekuatan anatomi kayu, yang disebabkan proses ikatan kimia yang terjadi dari bahan anti api tersebut.

Penampilan Sistem Atap dan Lantai Tiang
Ketahanan terhadap beban
Pada umumnya, sistem yang relatif sangat berhubungan dengan jarak antar tiang, yaitu sekitar 24 inci (60 cm) sebagai penggunaannya, yang lebih efektif pada beban yang sifatnya dapat berpindah. Dengan adanya sistem jarak ini maka beban yang membenani tiang tidak berfokus pada satu titik pembebanan melainkan menyebar pada tiap bagian tiang pembeban dan sepanjang jaraknya.
Ketahanan terhadap kerusakan jangka pendek dan panjang
Defleksi adalah jumlah kerusakn yang timbul pada bagian tiang yang mempengaruhi kekuatannya. Biasanya, tiang kayu menunjukkan tanda kerusakan dengan mengeluarkan bunyi creep pada saat hendak patah. Ini merupakan dampak jangka panjang pada tiang akibat pembebanan maksimum. Namun, dalam jangka waktu yang relatif pendek hal ini hanya menimbulkan cekungan pada atap atau lantai tiang kayu.

Persyaratan Sistem Tambahan pada Atap dan Lantai Tiang Kayu
Adapun persyaratan tambahan pada atap dan lantai tiang kayu tersebut, meliputi:
  1. Persyaratan bantalan pelabuhan
  2. Pertimbangan lateral
  3. Jembatan dan kekuatan




Analisis dan Desain pada Tiang Kayu
Desain standar
Berikut tipe rasio jarak kedalaman pada tiang kayu.
Tipe
Rentang rasio kedalaman (kaki)
Ringan
Kayu busur
Dual pitched
Parallel chord
10 sampai 20
6 sampai 8
5 sampai 6
8 sampai 10
Tipe jarak dan karakteristiknya
Tipe jarak pada tiangh mulai dari 15 sampai 50 kaki dengan spasi dari 12 sampai 48 inci pada pusatnya. Tiang kayu berat termasuk kayu solid gergajian, komposit struktural atau glulam memiliki jarak 150 kaki pada aplikasi bangunan. Pada bangunan umumnya jarak mulai dari 10 sampai 25 kali dari pusatnya.

Jumat, 05 November 2010

BERSOSIALISAI DAN DISIPLIN

Pagi itu, tepatnya tanggal 04 November 2010 pukul 10.00 WIB, merupakan hal yang menjadi sejarah dalam perjalanan akademisku. Karena pada hari itu merupakan salah satu langkah nyata dari perwujudan gelar akademisku.
Semua teman dan sahabatku, mendukungku sepenuhnya. Bayangkan saja, tiap orang mengambil kontribusi dalam seminar ini. Mental, fisik, konsumsi, materi, pembahas utama, dan peserta siap untuk bergabung dalam acara itu.
Jam 09.50, aku turun ke bawah dan langsung masuk kantor dosen, untuk mengingatkan kembali kedatangan mereka guna membimbingku. Langkah pertamaku, menuju dosen pembimbing dua. Saat itu, dosen tersebut sedang mengotak-atik laptopnya dengan asyik, lalu aku mendatanginya dan memohon kesediaannya hadir dalam usulan penelitianku. Hal pertama yang diucapkannya adalah "mana draftnya?", lugas aku menjawab, "sudah diatas bu". Lalu ia menanyakan bagaimana kesediaan dosen utamaku. 
Bergegas aku menuju dosen utama, dan menanyakan hal yang sama. Ungkapan itu keluar untuk yang kedua kali. " Bagaimana mungkin saya bersedia menjadi komisi pembimbing kamu, kalau kamu belum memberikan draftmu", lalu bapak itu pun berjalan menuju dosen kedua. Kami berdiskusi lama, menentukan keputusan.
Peringatan yang paling memberikanku pelajaran adalah "kamu sainsnya bagus, tapi sosial kamu kurang, kamu kan bisa menanyakan masalah teknis, dengan teman kamu yang sudah duluan seminar" ungkap mereka. Dari tatapan mereka seolah tersibak pengajaran pendidikan yang amat berharga bagiku, mulai dari teknis hingga kedisiplinan.
Pada saat itu memang aku kalut, dan berusaha meyakinkan mereka agar seminar tidak ditunda. pikiranku saat itu mulai kacau dan kondisi badankupun mulai melemah, karena pada saat itu dana ku sudah terkuras, ditambah lagi banyak kegiatan yang aku tunda, mulai dari pernikahan abngku sampai penyewaan laboratorium. seketika mentalku jatuh, namun mereka tetap memberikanku semangat yang lebih. bagaikan seorang psikolog mereka mengajarkankanku makna kehidupan yang sesungguhnya.
Aku disiruh menunggu selama 5 menit diluar, bagaikan sedang dalam kontes atau audisi yang biasa dilakoni orang banyak, jantung degdeg ser. "Kamu sudah siap mendengar putusan dari kami, keputusannya adalah ...... seminar kamu ditunda sampai minggu depan" sontak aku kecewa dengan mereka. Namun, jika dipikir ebih dalam mereka sesungguhnya lebih kecewa dengan tindakanku itu.
Akhirnya aku menerima putusan itu, mau tidak mau argumen apapun yang kuberikan nilainya tetap salah. akupun bergegas meninggalkan ruangan. keluar dari gedung departemen aku menarik langsung dasi yang menempel pada leherku, dan naik ke lantai tiga. kalut dan malu aku tanggalkan. aku berdiri di depan puluhan mahasiswa yang telah siap mengikuti acara, dan berkata "terima kasih buat teman-teman yang telah menyempatkan hadir di tempat ini. seminar saya diundur sampai minggu depan, tetapi saya tetap meminta dukungan dan partisipasi kawan-kawan untuk kembali bergabung minggu depan, terima kasih" ungkapku dengan menahan malu dan nada yang terengah.......
Bersosialisasi dan disiplin, menjadi tambahan kamus kehidupanku saat itu.
Terima kasih buat: orang tua, adikku, my lovely, teman-teman kampusku dan dosenku yang telah memberikan ajaran berharga bagiku dan dukungan baik moril maupun spiritual yang membentuk jati diriku, walaupun pada dasarnya kuncinya berada padaku.

WATERPROOFING/ PELAPIS ANTI BOCOR SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN BANGUNAN

Latar Belakang


Curah hujan yang tinggi dapat membuat kondisi di rumah terasa lembab. Biasanya jamur dan lumut senang hidup di tempat ini. Untuk itu sebaiknya hindari ruangan-ruangan gelap karena tidak terkena oleh cahaya matahari. Dengan kondisi yang lembab jamur dan lumut dengan cepat akan menggerogoti kayu sehingga mudah lapuk (Tim Grya Kreasi, ________).

Rumah
Rumah adalah kebutuhan utama manusia, sebagai tempat berlindung dan beristirahat, sekaligus sebagai tempat penghuninya melakukan kegiatan (Sandjaya, 2005).



Waterproofing (Anti Air)
Waterproofing adalah bahan pelapis kedap air. Fungsinya bisa bertolak belakang sesuai kebutuhannya. Di satu sisi waterproofing digunakan untuk mencegah air merembes masuk ke dalam (dinding luar dan atap), tetapi pada kebutuhan lain waterproofing justru digunakan untuk mencegah air agar tidak merembes keluar atau bocor (Suastika, _____), yang dapat diaplikasikan pada bidang tegak lurus, area datar atau miring dan area yang sering tergenang air dan memiliki daya selama kurang lebih 5 tahun, dan setelah 5 tahun secara berkala perlu dilakukan pelapisan ulang atau setelah timbul pecah-pecah dan gelembung pada permukaan lapisan anti bocor ini.(Farhdani, 2010).
Keuntungan yang akan anda dapatkan bila dalam finishing rumah anda menggunakan waterproofing/pelapis anti bocor ini, diantaranya adalah :
  1. Akan meningkatkan nilai bangunan / properti, rumah anda pasti akan jauh dari kata bocor dan rembes, yang akan mengganggu estetika rumah anda.
  2. Menjaga kekuatan struktur pondasi bangunan, pengaruh air dalan jangka panjang juga akan berpengaruh terhadap struktur.
  3. Memperpanjang umur bangunan, bangunan menjadi awet karena air yang jatuh langsung dapat mengalir dan terbuang dengan baik.
  4. Menciptakan rumah tinggal yang tidak lembab dan berjamur, lebih sehat bagi seluruh anggora keluarga, lembab akan menyebabkan bau yang tidak enak dan mudah menimbulkan penyakit karena jamur akan leluasa berkembang biak.
  5. Menjadikan rumah tampak lebih menarik, rapi dan bersih.
  6. Menghadirkan kenyamanan suasana yang lebih hangat, kelembaban yang ditimbulkan oleh kebocoran dan rembesan akan berpengaruh terhadap udara di dalam rumah yang cenderung dingin dan tidak nyaman.
  7. Memungkinkan pemanfaatan setiap ruang secara optimal. 


DAFTAR PUSTAKA

Fadhani. 2010. Waterproofing, Si Penahan Bocor. Www.fardhani.com
Sandjaya, I. 2005. Menata Rumah Mungil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suastika, K. _________. Penyebab Bocor, Tips Bocor, Fungsi Waterproffing. Www.tokobangunan.net
Tim Grya Kreasi. ________. 21 Desain Rumah Tropis Modern. Grya Kreasi Depok.

Rabu, 03 November 2010

PEMBUATAN PULP DENGAN BAHAN BAKU JERAMI MELALUI PROSES BASA


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perkembangan industri pulp di Indonesia berjalan dengan cepat, tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan pasokan bahan baku yang memadai. Saat ini, sebagian besar industri tersebut berjalan pada kapasitas terpasangnya bahan baku dari hutan alam yang semakin menipis dan mahal. Fakta tersebut diperkuat oleh pernyataan Lestari (2010) berdasarkan data statistik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia 2009 yang mencatat bahwa laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,08 ha/tahun. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu ada upaya konversi bahan baku kayu dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu berlignoselulosa sebagai substitusinya.
Jerami merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulping yang mudah di dapatkan dan merupakan energi yang terbarukan. Juga jerami dapat langsung digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Penggunaan jerami sebagai bahan baku kertas dapat digunakan setelah masa panen padi yaitu sekitar 2 bulan. Berbeda dengan kayu yang masa pertumbuhannya sampai tahunan, juga jika menggunakan bahan baku kayu maka akan menyebabkan berbagai kerugian antara lain bencana alam (Macklin, 2009).
Perkembangan pendidikan dunia yang semakin meningkat, akan berbanding lurus dengan konsusmsi kertas dunia. Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Dengan demikian inilah yang menjadi latar belakang penulis melakukan praktikum yang berjudul Pembuatan Kertas dari Jerami Secara Proses Basa.

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pembuatan Kertas dari Jerami Secara Proses Basa adalah untuk mengetahui kualitas kertas yang dihasilkan dari bahan baku jerami dan menggolongkannya kedalam kelas layak pakai atau tidak.


TINJAUAN PUSTAKA

Jerami Padi (Oriza sativa)
Jerami adalah bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Ketiga unsur ini relatif kuat karena mengandung unsur silika, dan selulosa yang tinggi serta pelapukan yang memerlukan waktu yang relatif lama. Pada waktu tanaman dipanen, jerami adalah bagian tanaman yang tidak dipungut. Bobot jerami padi merupakan fungsi dari (a) rejim air, (b) varietas, nisbah/ gabah jerami, ( c ) cara budidaya, (d) kesuburan tanah, dan (e) musim, iklim, dan tinggi tempat (Makarim, 2007).

Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH) adalah suatu basa yang umum digunakan di laboratorium. Namun demikian, karena padatan natrium hidroksida sulit diperoleh dalam keadaan murni, larutan natrium hidroksida harus distandarisasi terlebih dahulu dalam kerja analitis yang memerlukan keakuratan. Kita dapat menstandarisasi lautan hidroksida dengan menitrasinya dengan menggunakan larutas asam yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat (Chang, 2003).
Natrium hidroksida (NaOH) sering disebut dengan kaustik soda atau soda api. NaOH merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. Bentuknya kristal putih dan cepat menyerap kelembaban (Hambali, et al., 2006).
Adapun beberapa sifat dari Natrium Hidroksida (Perry & Green, 1999) yaitu :
  • Berat Molekul : 40 gr/mol
  • Densitas : 1040 kg/m3
  • Titik lebur : 318,4 C
  • Titik Didih : 1390 C
  • Kelarutan dalam air : 111 g/100 ml (20 C)
  • Berupa Kristal putih


Pulp
Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas, tetapi pulp juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti rayon dan selofan. Pulp sering juga disebut hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia). Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia, atau secara mekanik atau dengan kombinasi keduanya. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti grinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) , NSSC (Neutral Sulfite Semichemical). Sedangkan yang termasuk proses kimia yaitu proses kraft yang merupakan bagian proses basa dan proses sulfit yang termasuk proses asam. Dimana proses kraft ini pertama sekali dikenal di Swedia pada tahun 1885. Disebut kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi dari pada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif dan mineral) (wikipedia, 2009).

Pulping
Pulping adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).Pulp terdiri dari serat – serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas .Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis , kimia , dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis (Macklin, 2009).

Selulosa
Adapun faktor yang membuat selulosa disenangi untuk produksi pulp dan
kertas adalah (Murugan, 1996) :
  1. Jumlahnya berlimpah, dapat melengkapi, dan mudah dipanen dan dipindah-pindahkan dan akibatnya bahan ini murah harganya.
  2. Zat ini umumnya berbentuk serat, dan kekuatan tariknya benar-benar tinggi.
  3. Zat ini bisa menarik air, yang mempermudah persiapan mekanik dari serat-serat atau ikatan-ikatan serat ketika campuaran serat tadi dikeringkan
  4. Zat ini tidak dapat larut dalam air dan pelarut-pelarut organik
  5. Tahan terhadap sejumlah bahan kimia yang menyebabkan dapat diisolasi dan dimurnikan dari kayu yang merupakan sumber utama selulosa.

Kertas

Kertas merupakan alat dokumentasi, komunikasi, administrasi, dan transaksi yang sampai saat ini tetap menjadi pilihan utama. Pengguna kertas hamper di setiap kota besar, yang memiliki kegiatan atau lalu lintas perekonomian tinggi. Di kota- kota tersebut terdapat sejumlah besar pertokoan, perkantoran, lembaga baik profit maupun non profit, sekolah, Perguruan Tinggi dan sebagainya. Semua komponen tersebut adalah pengguna kertas yang tinggi (Maulana, ____)














BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Praktikum Pulp dan Kertas yang berjudul Pembuatan Kertas Tradisional dari Jerami Padi (Oriza sativa) dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Oktober 2010 di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah parang, talenan, hot plate, gelas ukur 1000 ml, spatula kaca, aluminium foil, saringan, kertas saring, cawan petri, oven, blender dan plastik berbentuk lingkaran.
Bahan yang digunakan adalah 100 g jerami dengan panjang + 1 cm, NaOH (natrium hidroksida), tepung kanji dan H2O (air).

Prosedur
Proses pulping (pembuburan)
  1. Disiapkan + 100 g bahan baku (jerami kering)
  2. Dipotong jerami dengan panjang + 1 cm
  3. Disiapkan larutan NaOH 1 L sebanyak 6 %
  4. Dimasak selama 3–4 jam sehingga menjadi bubur
Pengujian kadar air pulp
  1. Diambil 2 g jerami kering yang telah dipulping dan dimasukkan dalam cawan petri
  2. Dioven pada suhu 103 + 2 0C sampai beratnya konstan sebanyak 5 kali ulangan
  3. Dihitung kadar airnya
Pembuatan lembaran
  1. Ditimbang pulp sebanyak 3 g
  2. Ditambahkan tepung kanji dengan perbandingan 1:1, 1:2 antara jerami dengan kanji sebanyak 5 kali ulangan
  3. Diaduk dan ditambahkan air secukupnya
  4. Diblender sampai halus
  5. Dibuat lembaran kertas di atas plastik berbentuklingkaran
  6. Dikeringkan sampai kertas bisa diambil dari plastik

DAFTAR PUSTAKA

Chang, R. 2003. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Edisi Ketiga. Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Hambali, E., Ani S., Dadang, Hariyadi, Hasim H., Iman K. R., Mira R., M. Ihsahnur, Prayoga S., Soekisman T., Tatang H. S., Theresia P., Tito P., dan Wahyu P. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodisel. Penebar Swadaya. Depok.

Makarim, A. K. 2007. Jerami Padi Pengelolaannya dan Pemanfaatannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Agro Inovasi. Bogor.

Macklin, B. 2009. Pulping Jerami. Online Buku. Bandung.

Maulana, A., Sungkono. __________. Karakterisasi Mesin Peminat Bubur Kertas (Pulper) dengan Kapasitas 50kg. Fakultas Teknik Universitas Nasional. Jakarta.

Murugan, B. 1996. Proses Kraft Pulping. PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perawang.

Perry, Robert H. dan Dow W. Green. 1999. Chemical Engineering HandBook. 7th Edition. New York: McGraw-Hill Book Company.

Wikipedia. 2009. http://www.wikipedia.co.id/ Pulp. 04 November 2010.

DETERIORASI OLEH BAKTERI


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia diketahui mempunyai sekitar 120,35 juta ha hutan tropis, yang paling besar nomor dua di dunia yang meliputi sekitar sepuluh persen hutan tropis dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara biodiversity. Indonesia mempunyai tidak kurang dari 4000 jenis kayu yang terbesar disepanjang hutan, namun dari jumlah itu tidak lebih dari 200 jenis kayu telah dikenal secara komersial diperdagangkan selama ini.
Saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa harga kayu semakin mahal. Kenaikan harga kayu atau produk olahan kayu mungkin dirasakan sebagai suatu yang wajar karena banyak faktor yang terlibat yang mendukung meningkatnya harga produk tersebut. Walaupun hal tersebut dapat diterima, tetapi dapat dimengerti pula bahwa pasokan kayu memang semakin menurun karena jenis kayu komersial produksi hutan alam semakin habis dan belum dapat diganti sepenuhnya dengan hutan produksi hutan tanaman. Akibatnya pasokan kayu akan berubah dari jenis komersial ke jenis non komersial atau jenis kayu tak dikenal (Lesser know spesies) produksi hutan alam atau hutan sekunder serta jenis kayu yang ditanam oleh rakyat sebagai produk hutan rakyat.
Di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa 80 – 85 % kayu Indonesia mempunyai keawetan yang rendah (kelas III – IV). Dengan kata lain sebagian besar jenis kayu tersebut mudah terserang berbagai jenis organisme perusak kayu.kenyataan ini ditunjang pula oleh letak geogarfis Indonesia di khatulistiwa dengan iklim tropisnya yang memungkinkan hadirnya berbagai jenis organisme perusak kayu seperti rayap, bubuk kayu kering, jamur pelapuk. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa ancaman kerusakan kayu di Indonesia sangan besar.
Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebab-penyebabnya dapat diatasi atau dikendalikan. Kayu yang digunakan diluar atap berhubungan langsung dengan tanah atau air laut akhirnya akan membusuk atau diserang oleh pengebor-pengebor laut atau serangga. Tetapi umur pakainya dapat sangat diperpanjang dengan perlakuan tepat. Untuk menghindari kemunduran dalam bangunan-bangunan atau untuk memperpanjang umur bahan-bahan kayu yang digunakan dibawah kondisi-kondisi yang berat, mereka yang menggunakan produk-produk kayu harus memahami kondisi-kondisi yang dapat berkembangnya kemunduran dan tindakan pencegahan yang harus diambil.
Agen-agen biologis adalah penyebab utama kerusakan kayu, akibat dari cendawan yang menyebabkan noda, pelunakan dan pembusukan; pengebor-pengebor laut, terutama cacing-cacing laut dan kerang-kerang laut kecil; serangga termasuk rayap, semut kayu; berbagai kumbang pengebor kayu; dan bekteri yang menyebabkan pelapukan pada kayu yang apabila lama terendam oleh air.

Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mempelajari deteriorasi kayu oleh bakteri baik dari segi penyerangan maupun mikroskopisnya.



















TINJAUAN PUSTAKA


Deteriorasi Hasil Hutan
Menurut Tarumingkeng, R, C (2000) Deteriorasi hasil hutan adalah semua proses dan akibat yang menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas hasil hutan. Terjadinya deteriorsi hasil hutan diakibatkan oleh berbagai penyebab (causing agents), yaitu karena faktor-faktor biologis (hama, penyakit) dan faktor-faktor fisik. (Heygreen dan Bowyer, 1986) menambahkan deteriorasi merupakan penurunan umur pakai kayu yang diakibatkan oleh pembusukan, noda-noda cendawan, serangga-serangga, api dan pelapukan. Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebabnya dapat dibatasi dan dikendalikan.

Bakteri
Bakteri adalah jenis tumbuhan tingkat rendah yang tidak berhijau daun. Oleh karena itu untuk hidupnya memerlukan bahan-bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau. Jasad renik ini mempunyai kemampuan khusus untuk berkembang pada liungkungan yang kurang oksigen. Beberapa jenis diantaranya bahkan dapat hidup secara anaerobik. Knuht (1969) dalam penelitiannya terhadap bahan-bahan dari kayu, telah menemukan 198 jenis bakteri pada berbagai jenis kayu. Diantaranya dari genus Bacillus, Aerobacter, dan pseudomonas yang biasanya hidup didalam tanah dan air (Tambunan dan Nandika, 1989). Nicholas (1987) menyatakan bakteri ini masuk kedalam kayu bagian dalam dengan jalan menembus sel yang satu ke sel yang lainnya melalui noktah sel, setelah penghancuran membran sel.

Penetrasi Oleh Bakteri
Patogen mempenetrasi permukaan tumbuhan secara langsung melalui lubanglubang alami, atau melalui luka. Bakteri umumnya masuk melalui luka, jarang melalui lubang alami dan tidak pernah secara langsung. Adapun virus dapat masuk melalui luka yang dibuat vektornya dan juga melalui luka-luka mekanik yang disebabkan oleh alat-alat pertanian.
Proses penetrasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
  1. Penetrasi melalui luka, seperti semua bakteri
  2. Penetrasi melalui lubang-lubang alami, masuk melalui stomata, hidatoda, nektartoda dan lenti sel.
(Yunasfi, 2008).

Serangan Bakteri (Invasi)
Serangan bakteri terhadap kayu biasanya terjadi bersama-sama dengan jamur (Tambunan dan Nandika, 1989). Hunt dan Garrat (1986) menyatakan kedua jenis jasad renik tersebut kemungkinan bekerjasama dalam penghancuran kayu secara biologis. Bakteri mempunyai kemampuan dalam merusak selulosa kayu dan juga mampu merusak jaringan-jaringan berlignin jika kondisi lingkunagan memungkinkan. Kayu yang diserang oleh bakteri akan banyak menyerap air dan kekuatan kayu akan berkurang. Pada prinsipnya serangan bakteri menyebabkan daya ahorsi pada kayu menjadi tidak normal karena rusaknya membran noktah dari sel-sel (Tambunan dan Nandika, 1989).
Bakteri dapat menyerang kayu yang terendam dalam air (termasuk air laut) dan terkubur dalam tanah karena bersifat anaerob. Aktivitas bakteri dapat ditunjukkan melalui lubang atau kerusakan pada membran pit sapwood (gubal), erosi pada dinding sel, dan konsumsi isi sel parenkim, yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas kayu (7-10 kali), pengurangan kekuatan (keuletan, tekan, lengkung), pelunturan warna, pelunakan permukaan, dan penyusutan (Nuryawan,2008).
Infeksi patogen yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada lubang stomata yang dapat mempengaruhi laju asimilasi, karena terhambatnya laju aliran CO 2 . Adanya perubahan dalam fiksasi CO 2 akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam aktivitas enzim-enzim yang berperanan dalam proses fotosintesis dan menyebabkan terjadinya perubahan dalam metabolisme akumulasi asam amino dan asam organik dalam pelepasan gula dan gula posfat (Yunasfi, 2008).


Air
Air adalah substansi kimia dengan : satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terkait secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0°C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam,gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Wikipedia, 2010).
Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida (Wikipedia, 2010).

Kayu
Kayu sebagai bahan biologis tidak terdegradasi atau rusak karena pengaruhwaktu tetapi karena faktor eksternal. Berbagai macam faktor eksternal yang terdiri atas tumbuhan (bakteri, jamur), binatang (serangga, binatang laut), iklim, mekanis, kimia, panas, dapat menyebabkan degradasi dari penampakan, struktur, ataupun komposisi kimia kayu (Tsoumis, 1991).

Pemencaran oleh Air
Air penting bagi penyebaran patogen dalam tiga hal; (1) Bakteri nematoda dan spora, sklerotium dan bagian miselium fungi yang terdapat dalam tanah disebarkan oleh air hujan atau air irigasi, (2) Bakteri dan spora banyak jenis fungi terlarut ke dalam larutan yang dapat melengket dan penyebarannya tergantung kepada air hujan dan air irigasi, (3) Butir-butir hujan yang jatuh atau air irigasi yang disemprot dari atas akan mengambil spora fungi dan bakteri yang terdapat di udara (Yunasfi, 2008).



BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Praktikum yang berjudul Deteriorasi Kayu Oleh Bakteri dilaksanakan pada tanggal 8 September 2010 sampai dengan 30 September 2010 di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah parang, penggaris, oven, timbangan elektrik, ember, kertas pH, botol kaca berukuran kecil dan mikroskop.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 4 buah sampel kayu berukuran > 15 cm yang telah terendam + 10 hari.

Prosedur
Adapun pelaksanaan dari praktikum ini adalah:
  1. Disiapkan 4 buah sampel kayu yang telah terendam selama + 10 hari pada air tergenang dengan ukuran panjang > 15 cm.
  2. Dikeringkan 4 sampel tersebut sampai kadar air kering udara.
  3. Ditimbang berat sampel kering udara sebagai berat awal (BA).
  4. Dikeringovenkan 1 buah sampel sampai berat kering oven (BKO) selama 24 jam.
  5. Dihitung kadar air sampel kayu, dengan rumus:
KA = {(BA – BKO) / BKO}x 100%
  1. Direndam 3 sampel sisa dalam air selama 3 minggu.
  2. Diukur nilai Ph dengan interval per 3 hari.
  3. Ditimbang kembali sampel yang telah dioven, dan dihitung sebagai persentase kehilangan berat, dengan rumus:
Kehilangan Berat (KB) = {(BA – BKO) / BA} x 100%
  1. Diamati air rendaman dibawah mikroskop.
  2. Diamati dampak serangan dan diidentifikasi jenis bakteri yang menyerangnya.
DAFTAR PUSTAKA

Haygreen , J. G. dan J.L. Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu Pengantar. Gajah Mada Universitas Press. Yogyakarta.
Hunt, G.M. dan G.A. Garrat. 1986. Pengawetan kayu. Edisi 1 Diterjemahkan oleh

Jusuf, M. Akademika pressindo. Jakarta.


Nuryawan, A. 2008. Degradasi Kayu. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.

Tambunan, B. dan D. Nandika. 1989. Deteriorasi kayu oleh faktor biologis.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. IPB Bogor.


Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood Structure, Properties, Utilization. Van Nostrand Reinhold New York
.
Nandika, Dodi. 1986. Kerusakan Kayu Oleh Jasad Hidup Selain Rayap. Disampaikan Pada Penataran Supervisor/Teknisi Pest Control DKI Jakarta. Jakarta.


Tarumingkeng, Rudy, C. 2008. Managemen Deteriorasi Hasil Hutan. http://tumoutou.net/dethh/1 _ forest_product_det.htm. [4 November 2010]
Wikipedia. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Air#Sifat-sifat_kimia_dan_fisika

Yunasfi. 2008. Serangan Patogen dan Gangguan Terhadap Proses Fisiologis Pohon. USU. Medan.

KUSEN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN


PENDAHULUAN


Pilihan atas suatu bahan bangunan, tergantung pada sifat-sifat biologis, teknis ekonomis dan keindahan. Jikalau dipih kayu sebagai bahan bangunan biologis, maka perlu diketahui sifat sepenuhnya (Frick, 2009).
Kayu merupakan bahan bangunan yang didapat dari tumbuh-tumbuhan alam. Tumbuh-tumbuhan ini sebagai sesuatu yang hidup, dipengaruhi oleh kondisi tempat ia hidup. Pengaruh ini memberikan sifat yang berbeda-beda kepada setiap jenis kayu. Perbedaan tercermin dari pola ukuran serat, pori-pori, zat pengisi kayu, berat jenis kekerasan kayu dan sebagainya (Frick, 2009).
Kayu mempunyai kuat tarik dan kuat tekan relatif tinggi dan berat yang relatif rendah, mempunyai daya tahan tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik, dapat dengan mudah untuk dikerjakan, relatif murah, dapat mudah diganti, dan bisa didapat dalam waktu singkat. Pemakaian kayu sebagai konstruksi dukung banyak menjadi alternatif pengganti besi dan beton bertulang. Rata-rata konstruksi kayu dengan daya dukung yang sama, harganya 25%-40% lebih murah dari pada konstruksi baja dan beton bertulang (Wiryomartono,1976).
Sebagai bahan konstruksi, kayu harus memiliki kekuatan, kekakuan, kekerasan berukurab besar dan memiliki keawetan alami yang tinggi. Contoh kayu ini biasanya tergolong dalam kayu berasal dari hutan, atau kayu rimba (Saefudin, 1999).
Untuk memasang kaca, daun jendela, atau daun pintu perlu dibuatkan bingkai yang cukup kukuh. Bingkai ini biasanya disebut kusen. Selain dipergunakan sebagai penggantung pintu, jendela dan bingkai kaca, kusen pun digunakan sebagai penadah dinding di sebelah atas dan samping. Biasanya bila jenis kusen yang dipasang kurang kuat, akan didapatkan tembok yang retak pada bagian sudutnya (Susanta, 2008).





ISI

Deskripsi
Kusen sering dikenal sebagai frame (Akmal, ___). Kusen adalah suatu rangka dari balok kayu atau dari bahan lainnya, seperti plastik, alumunium yang dihubungkan sedemikian rupa sesuai dengan kaidah suatu konstruksi, fungsi serta selera dari pemilik bangunan. Fungsi utama dari kusen yaitu untuk perletakan daun pintu, jendela, kaca dan tralis (Daryudi, 2005). Irawan (2003) menambahkan bahwa material kusen untuk pembangunan rumah tinggal sampai saat ini masih banyak yang berasal dari kayu, yakni dari kayu kelas I dan III.
Bentuk dan variasi kusen tergantung pada pemilik bangunan, akan tetapi harus memperhatikan segi keamanan, keindahan dan paktor pembiayaan. Bentuk dan variasi kusen tidak begitu banyak, lebih banyak pada variasi daun pintu dan jendelanya serta kaca yang akan dipasang (Daryudi, 2005).
Kusen digolongkan berdasarkan jenis materialnya. Saat ini ada empat jenis kusen yang dapat digunakan, yaitu kayu, alimunium, fiber atau plastik, dan besi atau baja (Susanta, 2008).

Volume Kebutuhan Bahan Baku
Pemasangan kusen kayu dilakukan bersamaan dengan pemasangan dinding kaca, batako, atau baja ringan. Satuan kusen biasnya m3. Namun, bila kusen dibeli pada perusahaan kusen, biasanya kusen dihitung per lubang kusen.
Perhitungan volume untuk 1 m3 kusen adalah sebagai berikut.
  • Kayu sebanyak 1,2 m3
  • Paku sebanyak 2,5 kg
  • Lem Kayu sebanyak 1 kg
(Susanta, 2008).
Perhitungan volume kusen adalah:
Vks = L x p
= b x h x p
dimana:
Vks = volume kusen
L = luas penampang kayu
p = panjang kayu
b = lebar penampang kayu sebelum diserut
h = tinggi penampang kayu sebelum diserut
(Susanta, 2008).

Ukuran Kusen
Kayu yang digunakan sebagai kusen biasanya berukuran 6/15 untuk dinding bata merah dan 6/12 untuk dinding batako. Perbedaan ukuran kayu ini disebabkan oleh adanya perbedaan ukuran antara bata merah dan batako sebagai dinding. Bata merah memiliki lebar 10 cm, sedangkan batako 8-9 cm. Bila bata merah atau batako ini diplester maka ketebalan dinding akan sama dengan lebar kusen (Susanta, 2008).







Gambar 1. Kusen pada dinding
Model kusen kayu dapat berbentuk gundulan atau memakai jalusi. Bila menggunakan kusen gundulan, biasanya diatas kusen dipasangi roster yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara (Susanta, 2008).

Kusen Jendela
Kusen pada jendela berfungsi sebagai rangka penyangga daun jendela. Selain itu, kusen juga didukung oleh engsel yang terletak di kiri/ kanan ataupun atas/ bawah daun jendela. Perletakkan engsel tersebut disesuaikan dengan kebutuhan atau selera. Umumnya ukuran kusen ditentukan oleh standar bangunan nasional serta syarat konstruktif (Gunadi, 2007).








Gambar 2. Kusen jendela
Biasanya kusen pada jendela rumah rumah memiliki standar ketinggian, yaitu minimal 40 cm dengan lebar sesuai dengan kebutuhan. Penentuan standar kebutuhan ini mengacu pada ketinggian badan manusia atau sejajar dengan ambang atas kusen pintu (Gunadi, 2007).
Kelebihan dan Kekurangan Kusen Kayu
Pekerjaan kusen merupakan pekerjaan kayu halus, karena akan menentukan baik tidaknya nilai fisik bangunan rumah tersebut. Sebelum pekerjaan kusen dilaksanakan, bahan kayu yang dipakai harus dikeringkan terlebih dahulu, baik kering angin maupun oven. Pekerjaan ini baik dilakukan untuk menghindari penyusutan sebelum dilakukan pemasangan kusen (Renggo, 2008).
Sebagai bagian dari konstruksi bangunan, kusen kayu juga memiliki keunggulan serta kelemahan dibandingkan dengan produk yang terbuat dari bahan non kayu.
Kelebihan menggunakan kusen kayu antara lain:
  • mudah pengerrjaannya
  • berkesan indah dan alami
  • mudah difinishing
Kekurangan menggunakan kusen kayu adalah:
  • tidak tahan api dan air
  • cepat terserang rayap
  • sulit diperoleh kayuyang kering.
PENUTUP

Kusen merupakan salah satu rangka bangunan yang merupakan golongan konstruksi yang dapat dibuat sebagai penyangga pintu, jendela dan lain-lain. Kusen pada dasarnya memiliki fungsi yang sangat penting, yakni sebagai jalan masuk keluar subjek yang berada dalam suatu objek, saluran atau ventilasi udara dan berbagai fungsi lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Kusen kayu memiliki keunggulan tersendiri baik dari segi manfaat maupun dekorasinya. Berdasarkan ukurannya, baik dilihat dari segi tinggi maupun lebar kusen, maka kusen dapat divariasikan sesuai dengan kebutuhan si pemilik dari objek, namun harus tetap mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan juga kenyamanan si pengguna.





















DAFTAR PUSTAKA

Akmal, I. _____. Jendela Cantik. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Daryudi, R. 2005. Memasang Kusen Kayu pada Bangunan. Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Gunadi, I. 2007. 101 Desain Jendela. Penebar Swadaya. Jakarta.

Irawan, Y. 2003. Panduan Membangun Rumah. Griya. Jakarta.

Renggo, S. W. 2008. Menghitung Biaya Membuat Rumah. Penerbit Swadaya. Jakarta.

Susanta, G. 2008. Panduan Lengkap Membangun Rumah. Penerbit Swadaya. Jakarta.

Rabu, 06 Oktober 2010

ELEMEN VOLTA, DANIELL, LECLANCHE, WESTON


Arus Listrik
Arus listrik adalah aliran-aliran partikel listrik yang bermuatan positif didalam suatu pengantar. Pergerakan muatan ini terjadi pada bahan yang disebut konduktor. Konduktor bisa berupa logam, gas atau larutan, sedangkan yang membawa muatannya sendiri tergantung pada jenis konduktor, yaitu pada:
  1. logam, pembawa muatannya adalah electron-elektron
  2. gas, pembawa muatannya adalah ion positif dan electron
  3. larutan, pembawa muatannya adalah ion positif dan negatif
muatan listrik dapat mengalir di dalam suatu rangkaian apabila ada sumber energi sebagai pompa. Akibatnya muatan listrik dikenai suatu gaya, yaitu gaya gerak listrik (ggl) sehingga timbullah listrik.
Pada kenyataannya setiap baterai tidak hanya menimbulkan beda potensial, akan tetapi sekaligus mengandung suatu hambatan karena kelajuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam baterai membatasi jumlah arus yang akan dihasilkan. Baterai yang rill sering dianggap sebagai baterai ideal dengan gaya gerak listrik yang dihubungkan dengan hambatan.

Sumber Arus Searah dari Proses Kimiawi
Sumber arus searah dsebut juga sebagai sumber tegangan searah sebab arus yamng ditimbulkan oleh suatu tegangan. Sumber arus berfungsi sebagai sumber energi untuk mengalirkan muatan melalui peralatan listrik. Energi diperoleh dari berbagai macam bentuk energi asal yang kemudian diubah menjadi energi listrik.
Elemen Primer
Pada elemen primer, reaksi kimia yang menyebabkan electron mengalir dari elektroda negatif (katoda) ke elektroda positif (anoda) tidak dapat dibalik arahnya. Dengan demikian elemen ini tidak dapat dimuati kembali jika muatannya habis. Elemen primer ialah elemen elektrokimia yang memerlukan pergantian bahan-bahan pereaksi setelah memberikan sejumlah energi listrik kepada rangkaian luar.
1. Elemen Volta (elemen Galvani)
Luigi Galvani (1737- 1798) menemukan bahwa bila kaki katak yang baru mati dikaitkan pada tembaga kemudian disentuh pisau besi, maka kaki katak itu akan bergerak. Volta menyimpulkan peristiwa ini sebagai gejala listrik yang timbul karena kedua logam yang dihubungkan oleh larutan yang ada dalam kaki katak.
Bila sebatang logam dimasukkan ke dalam larutan elektrolit, batang logam menjadi negatif sedangkan larutan menjadi bermuatan positif atau potensial larutan menjadi lebih tinggi daripada potensial logam. Perbedaan potensial logam dari larutan dinamakan potensial kontak. Ternyata, setiap logam mempunyai potensial kontak yang berbeda.
Sebuah elemen sederhana dapat dibuat berdasarkan prinsip diatas, yanitu dengan mencelupkan batang tembaga (Cu) dan batang seng (Zn) kedalam larutan asam sulfat (H2SO4) encer. Batang tembaga menjadi kutub positif atau anoda dan batang seng menjadi katoda. Beda potensial antara anoda dan katoda adalah 1 volt.
Dalam laritan, molekul-molekul asam sulfat akan terurai menjadi ion-ion hydrogen yang bermuatan positif dan ion-ion sulfat yang bermuatan negative. Elemen Volta mempunyai kelemahan, yaitu hanya dapat bekerja dalam waktu yang pendek sehingga tidak cocok untuk kehidupan sehari-hari.

2. Elemen Daniell
Elemen ini dibuat oleh John Daniell pada tahun 1835. untuk mencegah terjadinya polarisasi, elektroda dilindungi oleh suatu bahan kimia yang disebut depolarisator. Pada elemen Daniell yang digunakan adalah tembaga sulfat (CuSO4) yang dipisahkan dengan elektrolit asam sulfat encer oleh bejana berpori. Jadi, ion-ion masih dapat pergi dari elektroda ke elektroda lain melalui depolarisator.

3. Elemen Leclanche basah dan kering (baterai)
Elemen basah ini ditemukan oleh Leclanche tahun 1886. Elemen ini terdiri dari bejana kaa berisi karbon sebagai elektroda positif, batang seng sebagai elektroda negatif, larutan ammonium klorida sebagai elektrolit, dan depolarisator mangan dioksida bercampur dengan sebuk karbon dalam bejana berpori.
Ketika ion-ion seng masuk kedalam larutan ammonium klorida , batang seng akan mejadi negative terhadap larutan logam. Ammonium klorida memberikan ion NH4+ menembus bejana berpori menuju batang karbon dan memberikan muatan positifnya pada batang karbon.
Pada perkembangannya, elemen Leclanche berubah menjadi elemen kering (baterai) yang lebih mudah dipakai. Sebenarnya elemen kering diperoleh hanyadengan mengganti elektrolit larutan ammonium klorida menjadi campuran pasta ammonium klorida dengan serbuk kayu, tepung atau getah.

4. Elemen Weston
Elemen ini menggunakan air raksa sebagai anoda dan amalgama cadmium sebagai katoda. Sebagai depolarisator digunakan campuran merkurosulfat dan kadmiumsulfat berbentuk pasta. Sebagai elektrolit digunakan larutan jenuh cadmium sulfat. Hablur-hablur kadmiumsulfat ditambahkan untuk menjaga supaya larutan tetap jenuh.

Elemen Sekunder
Elemen sekunder adalah elemen (sel) elektrokimia yang bahan-bahan pereaksinya dapat diperbaharui sehingga tidak diperlukan penggantian bahan-bahan pereaksi setelah membebaskan sejumlah energi melalui rangkaian luar. Ini karena reaksi kimia dalam elemen sekunder dapat dibalik. Salah satu contoh elemen sekunder adalah aki.