Selasa, 23 Februari 2010

KLASIFIKASI KEMIRINGAN LAPANGAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Klasifikasi lapangan di bidang kehutanan adalah penggambaran dan pengelompokan areal hutan berdasarkan sifat-sifat dapat tidaknya diterapkan sistem kerja atau mesin-mesin tertentu di areal tersebut dan kepekaan lapangan terutama terhadap kerusakan tanah dan erosi yang disebabkan oleh tindakan-tindakan pengelolaan hutan (Elias, 1997).
Garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis ini sering pula disebut garis tranches, garis tinggi dan garis lengkung horizontal. Demikian garis kontur + 101 m berarti garis menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian + 101 m. garis-garis kontur dapat dibayangkan sebagai proyeksi yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian permukaan dalam bentuk dan ukuran yang kecil.
Pada waktu perencanaan tanah perumahan, pendiri bangunan akan memanfaatkan ketinggian alamiah tanahnya. Rumahnya yang dibangun pada ketinggian yang berbeda-beda tampak tampak lebih menarik dan lebih indah. Karena itu, denah lokasi harus dapat menunjukan naik turunnya permukaan tanah atau relief permukaan tanah, caranya bermacam-macam misalnya dengan tinggi bentuk, penggarisan bukit penandaan dengan garis pendek-pendek dari pembuatan garis-garis kontur. Cara yang terakhir ini adalah cara yang paling tajam untuk dipakai.
Dalam pembuatan klasifikasi kemiringan lapangan ada yang disebut dengan garis kontur. Kontur atau garis tinggi merupakan garis yang menghubungkan titik-titik yang sama tingginya dari permukaan laut. Suatu peta yang dilengkapi dengan garis-garis kontur dapat memberi gambaran tentang lapangan yang sebenarnya tanpa melihat langsung di lapangan. Untuk dapat melukiskan garis-garis kontur dengan bersangkutan sebanyak mungkin, apabila lapangan yang diberi garis-garis konturnya cukup luas, maka tempat menempatkan alat ukur diperlukan pula lebih dari satu titik. Dimana setiap tempat kedudukan alat ukur diperlukan pula lebih dari satu titik. Dimana setiap tempat kedudukan alat yang satu dengan yang lain saling terkait. Klasifikasi lapangan di bidang kehutanan adalah penggambaran dan penggelompokan areal hutan berdasarkan sifat-sifat dapat tidaknya diterapkan sistem kerja atau mesin-mesin tertentu di areal tersebut dan kepekaannya di lapangan terutama terhadap kerusakan tanah dan erosi yang disebabkan oleh tindakan-tindakan dalam pengelolaan kegiatan hutan.
Peta menurut isinya dapat dibedakan menjadi delapan, yaitu: peta rupa bumi, tanah dan geologi, iklim dan hidrologi, liputan lahan, jaringan jalan dan irigasi, kadasteral, hidrografi dan kelas lerang. Peta kelas lereng adalah peta yang memuat informasi tentang kelas-kelas lereng lapangan mulai dari datar, landai, sedang dan curam, bahkan sangat curam.
Klasifikasi tersebut lebih ditekankan pada standar teknis jalan angkutan, dimana untuk daerah datar kemiringan tanjakan maksimal 5%. sedangkan daerah yang sedang 6-7%, dan untuk daerah yang curam tanjakan jalan ditolerir sebesar 8-10%. klasifikasi lapangan dibidang kehutanan dimulai antara tahun 1960 di Skandinavial. Penerapannya secara luas didalam kegiatan kehutanan terdapat di Skandinavia, Inggris, Prancis, Italia, Kanada, Uni Soviet, Jepang dan beberapa tempat Afrika, terutama di Gabun.
Dalam suatu areal hutan dengan areal total yang diketahui dengan pasti, prisip ini menentukan proporsi luas total yang ditempati oleh luas hutan tertentu. Taksiran proporsi ini diberikan melalui penempatan sistematik baik dengan

  • titik-titik, dimana masing-masing titik menentukan nilai 1 bila berada didalam kelas hutan atau 0 bila berada diluarnya (Sistem dot-grid).

  • Atau garis-garis sejajar (transek)yang masing-masing menyatakan bagian dari panjangnya garis yang berada di kelas hutan; sistem transek ini kurang dipakai dibanding sistem dot-grid karena panjangnya harus diukur.

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum klasifikasi kemiringan lapangan adalah:

  1. Untuk menentukan kelas kemiringan lapangan

  2. Penentuan luas areal hutan berdasarkan fungsi kawasan hutan

  3. Untuk mengetahui persentase kemiringan lapangan

  4. Untuk menentukan fungsi kawasan lapangan

TINJAUAN PUSTAKA

Kemiringan lapangan di bidang kehutanan menggambarkan dan mengelompokkan areal hutan berdasarkan sifat-sifat dapat tidaknya diterapkan sistem kerja atau mesin-mesin tertentu di areal tersebut dan kepekaan lapangan terutama terhadap kerusakan tanah dan erosi yang disebabkan dalam kegiatan-kegiatan hutan. Klasifikasi lapangan di bidang kehutanan dapat dibedakan menjadi klasifikasi primer dan skunder. Klasifikasi primer menggambarkan areal hutan berdasarkan sifat lapangan yang tidak berubah, sedangkan skunder berdasarkan kemungkinan terbaik aplikasi sistem kerja/mesin di areal tersebut (Muhdi, 2002).
Garis kontur ialah garis khayal yang digambarkan pada daerah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama, di atas atau di bawah dataran tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami jika kita membayangkan sebuah kolam. Jika air benar-benar dalam keadaan tenang, tepi air akan berada pada ketinggian yang sama dengan sekeliling kolam, membentuk sebuah garis kontur. Jika air diturunkan 5 meter, tepi air akan membentuk garis kontur kedua. Penurunan ketinggian air selanjutnya akan menghasilkan garis kontur yang kontiniu dan tidak dapat bertemu atau berpotongan dengan garis kontur yang lain. Demikian jugagaris kontur ridak dapat membelah atau tidak dapat bergabung dengan garis kontur yang lain, kecuali pada batu karang atau daerah yang mengajur. Tanda pasang surut yang dibuat oleh air laut ialah garis kontur dengan nilai nol meter (Irvine, 1995).
Salah satu metode yang digunakan dalam mengukur suatu luasan areal adalah metode kisi-kisi. Metode ini merupakan metode menghitung luas pada lembaran kalkir atau plastik transparan digambarkan garis memanjang dan melintang pada interval tertentu dan ditempatkan di atas gambar tersebut diatas garis-garis pembatas. Apabila garis memotong petakan-petakan maka bagiannya harus dibaca secara proporsional (Gayo, 2005).
Klasifikasi hutan secara garis besar biasanya bermanfaat untuk perencanaan makro. Untuk menyusun rencana operasional, diperlukan klasifikasi lebih rinci. Di dalam kawasan hutan tropika basah, peranan potret udara sangat untuk membuat klasifikasi yang lebih teliti. Disini sering kali informasi tambahan dari pengecekan lebih diperlukan, walaupun dalam jumlah kecil (Simon, 2007).
Dalam mengukur jarak antara dua titik pada lereng curam mungkinlebih baik meletakkan pita pada lerengnya dan menentukan sudut miring alpa, atau beta dalam deviasi, daripada menentukan pembagian pita setiap beberapa feet. Pita-pita panjang (200 dan 500 ft) lebih menguntungkan untuk pengukuran pada lereng (sungai maupun jurang), dan dari beberapa operasi militer (Brinker dan Paul, 1986).
Prinsip hitung titik atau teknik kisi garis pada penentuan luas kelas hutan tanpa menggunakan luas hutan tanpa menggunakan pengetahuan interpretasi potret udara. Jalur survei dibuat berselang di lapangan dan persentase areal yang dijajah di dalam suatu kertas areal hutan tertentu ditentukan baik dari proporsi panjang garis survei di dalam kelas itu, atau dari banyaknya petak ukur yang diambil secara sistematik di dalam kelas tersebut. Survey yang sama dimanfaatkan untuk mengubah data yng sama untuk taksiran volume atau pertumbuhan. Dengan menggunakan interaksi atau titik, pemeriksaan dapat dilakukan pada selang-selang waktu pada hamparan yang ditebangi pesawat dari setiap titik yabg jatuh pada suatu kategori hutan atau klsifikasi hutan yang dicatat (Husch, 1987).
Garis kontur adalah sebuah garis yang menggambarkan peta yang menghubungkan semua titik dan memiliki ketinggian yang sama. Adapun sifat-sifat garis kontur, yaitu:

  1. Jarak horizontal dua buah garis kontur akan semakin sejajar satu sama lain.

  2. Pada tanah dengan lereng seragam maka garis kontur akan semakin sejajar satu sama lain.

  3. Garis kontur tidak akan berpotongan satu sama lain kecuali pada keadaan khusus.

  4. Pada permukaan datar kontur akan beranjak secara bersamaan dan tidak akan terletak bersamaan
(Ligfensink, 1937).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat
Adapun Praktikum Pemanenan Hasil Hutan yang berjudul “Klasifikasi Kemiringan Lapangan” ini dilaksanakan pada hari Kamis, 3 September 2009, pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai di ruangan ruang 202 Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut :

  1. Peta kontur dengan skala 1:10.000 sebagai peta yang kemiringan lapangannya akan ditentukan

  2. Buku data sebagai tempat mencatat data.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut :

  1. Penggaris, untuk mengukur jarak dan menghubungkan titik satu dengan titik lainnya

  2. Alat tulis/pensil, untuk membuat garis dan mencatat data

  3. Penghapus, untuk menghapus data yang salah

  4. Pena warna, untuk memperjelas kontur/jalan trase

  5. Dot grid, untuk menghitung luas

  6. Kalkulator, untuk alat penghitung

  7. Pensil warna, untuk mewarnai peta sesuai dengan klasifikasi kemiringannya
Prosedur Praktikum

  1. Ditentukan titik pasti, dapat berupa percabangan, sungai, gunung, dan jembatan

  2. Ditentukan koordinat P(0,0) pada titik pasti kemudidan ditarik garis dan membentuk petak dengan ukuran 2x2 cm, kemudian ditarik 2 garis diagonal pada masing-masing petak

  3. Diberi penomoran dan koordinat pada masing-masing petak sesuai dengan arah utara mata angin (dari sudut kiri ke kanan mengikuti arah jalur ular).

  4. Ditentukan titik diagonal pada setiap petak

  5. Ditarik garis tegak lurus terhadap garis kontur dari titik diagonal ke garis kontur paling jauh, seperti gambar berikut:


2 cm


Gambar 1. garis tegak lurus kontur




  1. Ditentukan beda tinggi (ΔH) tempat garis kontur dengan syarat garis konturnya terbayak, terapat, dan terjauh menggunakan rumus sebagai berikut:
ΔH = + (I x i)

  1. Diukur jarak antar garis kontur (x) dalam satuan cm.

  2. Hitung kemiringan lapangan, dengan cara:
Y = x x 100%
Keterangan:
a = jarak terdekat (cm)
b = jarak terjauh (cm)
i = interval kontur
I = selang kontur
Y = kemiringan lapangan
ΔH = beda ketinggian
M = skala peta
X = jarak titik diagonal ke garis kontur paling jauh

  1. Ditentukan kelas kemiringan lapangan dan warna kelerengan

  2. Dimasukkan ke tabel seperti berikut:
Tabel 1. Pengukuran Kelerengan Lapangan Pada Masing Petak
No. Petak
Koordinat
Jarak antar garis kontur (x)
Kemiringan lapangan (%)
Kelas Lereng
Warna
Lereng
X
Y



















  1. Diwarnai masing-masing petak pada peta

  2. Dihitung luas masing-masing kelas kemiringan berdasarkan warna

  3. Dimasukkan ke dalam tabel berikut:
Tabel 2. Klasifikasi Kemiringan Lapangan
No.
Kelas Lereng
Warna lereng
Luas (Ha)
Luas (%)
1
Datar
Hijau
2
Landai
Kuning
3
Sedang
Biru
4
Curam
Merah muda
5
Sangat Curam
Merah tua
Total

  1. Dihitung luas areal yang termasuk Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Lindung (HL) dan hasil perhitungan dibuat dalam tabulasi sebagai berikut.
Tabel 3. Tabel Fungsi Kawasan Hutan
No.
Fungsi Kawasan Hutan
Skor Berdasarkan Kriteria TPTI
Luas (ha)
1
Hutan Produksi (HP)
< 125

2
Hutan Produksi Terbatas (HPT)
125-175

3
Hutan Lindung (HL)
> 175

Total




HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Adapun hasil pengukuran dan perhitungan adalah:
Tabel 4. Hasil Klasifikasi Kemiringan Lapangan
No.
Kelas Lereng
Warna lereng
Luas (Ha)
Luas (%)
1
Datar
Hijau
156,29
7,64
2
Landai
Kuning
842,09
41,18
3
Sedang
Biru
866,53
42,39
4
Curam
Merah muda
179,85
8,79
5
Sangat Curam
Merah tua
0
0
Total
2.044,76
100

Tabel 5. Tabel Fungsi Kawasan Hutan
No.
Fungsi Kawasan Hutan
Skor Berdasarkan Kriteria TPTI
Luas (ha)
1
Hutan Produksi (HP)
< 125
998,38
2
Hutan Produksi Terbatas (HPT)
125-175
1046,28
3
Hutan Lindung (HL)
> 175
-
Total
2.044,76

Pembahasan
Berdasarkan data tabel 4 didapat bahwa areal kawasan hutan Sumalindo, Kalimantan memiliki topografi yang landai hingga curam, sedangkan pada data tabel 5 didapat bahwa kawasan tersebut termasuk dalam kawasan hutan produksi yang sebagian besar merupakan hutan produksi terbatas. Kawasan hutan ini bukan merupakan kawasan hutan lindung, karena sedikitpun areal hutan tersebut tidak masuk dalam kategori hutan lindung.
Dari hasil yang didapat, pada peta kontur yang penulis kerjakan disimpulkan bahwa semakin rapat garis kontur maka akan semakin curam, sebaliknya semakin renggang garis kontur maka semakin datar kelas lerengnya. Hal ini sesuai dengan literatur Subagio (2003) yang menyatakan bahwa Kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Kontur ini dapat memberikan informasi relief, baik secara relief maupun absolut. Informasi relief secara relief ini diperlihatkan dengan menggambarkan garis-garis kontur secara rapat untuk daerah terjal, sedangkan untuk daerah landai dapat memperlihatkan dengan garis-garis kontur yang renggang.
Metode yang digunakan untuk menghitung peta pada praktikum ini adalah metode kisi, yaitu dengan cara meletakkan kertas transparan diatas petak peta yang hendak dihitung. Hal ini sesuai dengan literatur Gayo (2005) yang menyatakan bahwa Salah satu metode yang digunakan dalam mengukur suatu luasan areal adalah metode kisi-kisi. Metode ini merupakan metode menghitung luas pada lembaran kalkir atau plastik transparan digambarkan garis memanjang dan melintang pada interval tertentu dan ditempatkan di atas gambar tersebut diatas garis-garis pembatas.
Garis kontur merupakan garis yang selalu bersambung namun tidak akan pernah bertemu. Hal ini sesuai dengan literatur Invine (1995) yang menyatakan bahwa Garis kontur ialah garis khayal yang digambarkan pada daerah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama, di atas atau di bawah dataran tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami jika kita membayangkan sebuah kolam. Jika air benar-benar dalam keadaan tenang, tepi air akan berada pada ketinggian yang sama dengan sekeliling kolam, membentuk sebuah garis kontur. Jika air diturunkan 5 meter, tepi air akan membentuk garis kontur kedua.
Klasifikasi lapangan dilakukan pada suatu kawasan adalah untuk mempermudah dalam hal membuat trace atau hal lain sesuai dengan manfaat yang diinginkan, dengan mengetahui curam atau tidaknya kawasan, maka kemungkinan kecelakaan lalu lintas dapat diminimalisir. Hal ini sesuai dengan literatur Simon (2007) yang menyatakan bahwa Klasifikasi hutan secara garis besar biasanya bermanfaat untuk perencanaan makro. Untuk menyusun rencana operasional, diperlukan klasifikasi lebih rinci. Di dalam kawasan hutan tropika basah, peranan potret udara sangat untuk membuat klasifikasi yang lebih teliti.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum Klasifikasi Kemiringan Lapangan adalah:

    1. Semakin rapat garis kontur maka semakincuram suatu kawasan, dan sebalknya semakin renggang kontur maka semakin landai suatu kawasan tersebut.

    2. Perbandingan luasan daerah berdasarkan kemiringan lapangan adalah sebagai berikut sedang mendominasi sebesar 42,39% disusul landai 41,18%, kemudian curam 8,79%, datar 7,64% sedangkan sangat curam 0%.

    3. Dalam suatu fungsi kawasan lapangan, suatu areal hutan dengan kelas lereng datar, dapat mempermudah dalam rangka membangun jalan.

    4. Dalam fungsi kawasan hutan yang sangat curam dapat mempersulit (tidak dapat) membangun areal jaln di daerah tersebut.

    5. Luas areal hutan yang dihasilkan 2.044,76 ha, dengan 998,38 ha kawasan hutan produksi dan 1.046,28 ha yang merupakan kawasan hutan merupakan areal hutan produksi terbatas tanpa ada kawasan hutan lindung.
Saran
Hendaknya para praktikan dengan benar menghitung luasan areal yang daiamati dalam peta serta menghitung data dengan cermat dan tepat sehingga data yang didapat akurat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar