Selasa, 23 Februari 2010

DIAGRAM PROFIL


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hutan mangrove adalah sebutan untuk sekelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut pantai. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga hutan payau. Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau. Sebenarnya, hutan tersebut lebih tepat dinamakan hutan mangrove. Istilah 'mangrove' digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan kemungkinan salah pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizophora spp. Karena bukan hanya pohon bakau yang tumbuh di sana. Selain bakau, terdapat banyak jenis tumbuhan lain yang hidup di dalamnya.Ciri-ciri terpenting dari penampakan hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah memiliki jenis pohon yang relatif sedikit; memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.; memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora; memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon. Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama; tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat; daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat; airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2 - 22 o/oo) hingga asin (Anonimous, 2008).

B. Tujuan
Adapun tujuan praktikum yang berjudul Pembuatan Diagram Profil ini adalah untuk:
1. Menggambarkan suatu arsitektur pohon
2. Mengidentifikasi individu dan jenis pohon masa lampau, pohon saat ini, dan pohon masa depan.
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam studi synekologi, terutama studi komposisi dan struktur hutan, mempelajari profil (statifikasi) sangat penting artinya. Untuk mengetahui dimensi (bentuk) atau struktur vertikal dan horizontal suatu vegetasi dari hutan yang dipelajari, dengan melihat bentuk profilnya akan dapat diketahui proses dari masing-masing pohon dan kemungkinan peranannya dalam komunitas tersebut, serta dapat diperoleh informasi mengenai dinamika pohon dan kondisi ekologinya. Pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan ropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu:
1. Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C).
2. Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A).
3. Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati.
(Onrizal, 2008).
Pohon dapat diklasifikasikan berdasarkan posisi tajuknya, antara lain:

  1. Dominan, artinya pohon dengan tajuk yang lebar di atas lapisan .

  2. Kodominan, artinya pohon dengan tajuk besar pada lapisan tajuk.

  3. Tengahan, artinya pohon dengan bagian besar tajuk di bawah lapisan tajuk atau terjepit dan menerima sinar matahari bagian atas dan bagian samping menerima sinar matahari yang sedikit atau tidak sama sekali.

  4. Tertekan, artinya pohon dengan tajuk dinaungi pohon besar dan tidak menerima sinar matahari sepenuhnya, baik dari atas maupun dari samping
(Arief, 1994).
Struktur vegetasi dibedakan menjadi lima bagian berdasarkan tingkatannya, yaitu: fisiognomi vegetasi, struktur biomassa, struktur bentuk hidup, struktur floristik, struktur tegakan Struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu:

  1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.

  2. Sebaran, horisotal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.

  3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas
(Irwanto, 2007).
Pembentukan hutan mangrove tergantung pada ada tidaknya sedimentasi lumpur dan pasir akibat berat jenis dan daya koagulasi dari air laut serta kedalaman dasar air dan jumlah lumpur. Sedimentasi, erosi laut dan sungai, penggenangan pasang laut dan kondisi garam tanah serta kondisi akibat eksploitasi juga mempengaruhi hutan mangrove.Karakteristik hutan mangrove, antara lain:

  1. Tidak terpengaruh iklim, tetapi dipengaruhi oleh pasang surut air laut (tergenang air laut pada waktu pasang dan bebas genangan air laut pada waktu surut).

  2. Tumbuh membentuk jalur sepanjang garis pantai/sungai dengan substrat (media tumbuh) an-aerob, berupa lempung terjal dan kompak (firm clay soil), gambut (peat), berpasir (sundy soil) sampai di atas tanah koral.

  3. Struktur tajuk tegakan hanya memiliki satu lapisan tajuk (berstratrum tunggal). Komposisi jenis dapat homogen (hanya satu jenis) atau heterogen (terdiri sedikitnya dua jenis). Jenis-jenis kayu yang terdapat pada areal yang masih berhutan dapat berbeda antara tempat yang satu dengan tempat lainnya, tergantung pada kondisi tanah, intensitas genangan pasang surut air laut dan tingkat salinitas (kandungan garam air laut).

  4. Penyebaran jenis membentuk zonasi dari arah laut ke darat berturut-turut ditumbuhi Avicennia spp (tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik). Berikutnya didominasi oleh Rhizophora spp. Areal yang merupakan zona transisi, merupakan zona dimana pengaruh air tawar lebih besar dibandingkan air laut. Namun tidak terjadi pembatasan zonasi yang jelas antara vegetasi mangrove dan vegetasi daratan.
(Segoro, 2009).
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Adapun praktikum yang berjudul Pembuatan Diagram Profil ini dilaksanakan pada hari Minggu, 26 April 2009 di Pulau Sembilan, Kecamatan Pngkalan Susu, Kabupaten Langkat, Medan.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Komunitas hutan mangrove sebagai objek yang diteliti.
2. Kompas, sebagai penentu arah.
3. Meteran 20 m, sebagai ukuran pembatas jalur yang diamati.
4. Phi-band, sebagai alat pengukur diameter pohon.
5. Tali rafia, sebagai pembatas jalur yang daimati.
6. Golok / parang, sebagai alat untuk merintis.
7. Kertas milimeter, sebagai data gambar yang telampir.
8. Alat tulis sebagai prasarana pelengkap data.

C. Prosedur Kerja
1.Dientukan secara purposive sampling komunitas hutan berdasarkan keterwakilan
ekosistem hutan yang akan dipelajari sebagai petak contoh pengamatan profil.
2. Dibuatlah petak contoh berbentuk jalur dengan arah tegak lurus kontur (gradien perubahan tempat tumbuh) dengan ukuran lebar 10 m dan panjang 60 m, ukuran petak contoh dapat berubah tergantung pada kondisi hutan.
3. Anggap lebar jalur (10 m) sebagai sumbu Y dan panjang jalur (60 m) sebagai sumbu X.
4. Diberi nomor semua pohon yang berdiameter ≥ 7 cm atau tinggi total ≥ 4 m yang ada di petak contoh tersebut.
5. Dicatat nama jenis pohon dan ukur posisi masing-masing pohon terhadap titik kordinat X dan Y.
6. Diukur diamater batang pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang, serta gambar bentuk percabangan dan bentuk tajuk.
7. Diukur luas proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah paling tidak dari dua arah pengukuran, yaitu arah tajuk terlebar dan tersempit.
8. Digambarlah bentuk profil vertikal dan horizontal (penutupan tajuk) pada kertas milimeter dengan skala yang memadai.
9. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk lapisan A, B, dan C.
10. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk pohon masa depan, pohon masa kini, dan pohon masa lampau.






















HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Adapun hasil dari pengamatan dan pengukuran dilapangan mengenai kriteria lapisan pohon dan kategori pohon berdasarkan arsitekturnya adalah

  1. Lokasi hutan manggrove yang tidak terganggu
Tabel 1. Lapisan (stratum) Tajuk dan Penggolongan Pohon Berdasarkan Arsitektur pada lokasi hutan manggrove yang tidak terganggu
No
Jenis
Tinggi Total (m)
TBC
(m)
Dbh (cm)
Lapisan Tajuk
Ket
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Excoecaria agallocha
Ceriops tagal
Ceriops tagal
Ceriops tagal
Bruguiera gymnorhiza
Sonneratia alba
Sonneratia alba
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza
Bruguiera gymnorhiza

7
6,5
6
6
6,5
5,5
7
8
8
9
7
6
8
5
6
8
6
8
6
5
7
6
9
6
7
8
8
9,5
5
7
8
2,3
2,1
2
2
2,1
1,8
2,3
2,6
2,6
3
2,3
2
2,6
1,6
2
2,6
2
2,6
2
1,6
2,3
2
3
2
2,3
2,6
2,6
3,1
1,6
2,3
2,6
6
6
5,5
5
5
5,5
6
6
6
5
6
7
6
6
6
5
7
5
5
5
6
7
6
6
7
8
8
6
6
7
7
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C

Tabel diatas menunjukan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan untuk menggambar diagaram profil dengan menggunakan parameter tinggi pohon, diameter pohon dan lapisan tajuk dimana didominasi oleh lapisan C yang menjelaskan bahwa pohon memiliki tinggi total 4-20 m, tajuk kontinyu, rendah, kecil dan banyak cabang.
2. Lokasi hutan manggrove yang terganggu
Tabel 2. Lapisan (stratum) tajuk dan penggolongan pohon berdasarkan arsitektur pada lokasi hutan manggrove yang terganggu
No
Jenis
Tinggi Total (m)
TBC
(m)
Dbh (cm)
Lapisan
Tajuk
Ket
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Bruguiera gymnorhiza
Excoecaria agallocha
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Ceriops tagal
Bruguiera gymnorhiza
Ceriops tagal
Excoecaria agallocha
Excoecaria agallocha
Bruguiera gymnorhiza

8
6
6
5
7
6
8
7
7
6
7
7
2,8
2,3
2
2,3
2,3
2
2,6
2,3
2,3
2
2,3
2,3
8
6
6
5
7
6
8
7
7
6
7
7
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C

Tabel diatas menunjukan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan untuk menggambar diagaram profil dengan menggunakan parameter tinggi pohon, diameter pohon dan lapisan tajuk dimana didominasi oleh lapisan C yang menjelaskan bahwa pohon memiliki tinggi total 4-20 m, tajuk kontinyu, rendah, kecil dan banyak cabang.

B. Pembahasan
Pohon yang terdapat di hutan mangrove Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat merupakan jenis pohon yang tergolong dalam kategori pohon masa depan, baik pada hutan mangrove yang baik dan yang rusak. Hal ini terlihat dari potensi tegakan yang masih bisa atau mampu berkembang ke arah yang lebih besar lagi baik tangensial, radial dan longitudinal. Lapisan tajuk pohon di daerah ini tergolong dalam golongan C, yang artinya lapisan tajuknya masih memiliki kemampuan berkembang ke arah yang lebih lebar. Tinggi pohon pada dua daerah ini relatif hampir sama yaitu pada golongan pohon masa depan. Berdasarkan data yang penulis dapat pohon jenis Bruguiera gymnorhiza lebih mendominasi dibanding tumbuhan jenis lain.
Perbedaan antara pohon di hutan mangrove pada areal kawasan hutan yang rusak dengan yang tidak rusak terlihat dari variasi pohon berdasarkan posisi tajuknya. Pada hutan mangrove yang rusak tidak tampak perbedaan jelas adanya perbedaan tersebut. Penyebab dari kerdilnya tanaman ini bukan karena kurang mendapat sinar matahari karena keberadaannya yang terletak lebih jauh ke laut dibanding tegakan yang tumbuh pada areal yang baik. Kenyataannya berbeda dengan yang ada pada kawasan yang baik. Dikawasan yang baik tampak antara pohon yang kodominan, dominan dan tertekan. Hanya saja membedakan antara pohon tersebut sulit akibat kerapatan yang tinggi. Terkadang pohon dapat digolongkan menjadi tiang. Pohon dominan umumnya mampu menyerap cahaya yang banyak dibandingkan jenis pohon lain. Hal ini disebabkan karena ketinggian pohon yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Arif (1994) yang menyatakan bahwa pohon dominan, artinya pohon dengan tajuk yang lebar di atas lapisan ,kodominan, artinya pohon dengan tajuk besar pada lapisan tajuk, tengahan, artinya pohon dengan bagian besar tajuk di bawah lapisan tajuk atau terjepit dan menerima sinar matahari bagian atas dan bagian samping menerima sinar matahari yang sedikit atau tidak sama sekali dan tertekan, artinya pohon dengan tajuk dinaungi pohon besar dan tidak menerima sinar matahari sepenuhnya, baik dari atas maupun dari samping.
Jenis terbanyak di lokasi ini adalah Bruguiera gymnorhiza, pada diagram profil tampak bahwa kerapatan yang tinggi pada hutan yang baik akan menimbulkan sulitnya cahaya masuk. Namun, berdasarkan literatur Segoro (2009) dinyatakan bahwa iklim tidak sepenuhnya dapat mempengaruhi kecepatan tumbuh tegakan hutan mangrove. Penyebaran tajuk pada hutan ini sangatlah bervariasi. Lebar tidaknya sebaran tajuk tidaklah ditumjukan dari besar atau kecilnya atau tinggi besarnya suatu cabang. Angka Tbc (Tinggi bebas cabang) pada data didapat bukan dengan mengukur tinggi tersebut melainkan melalui perhuitungan cepat yang kebenaranya baik, yaitu sepertiga dari tinggi total. Sedangkan tinggi total didapat dengan menggunakan alat bantu walking stick. Kecermatan data yang didapat sebenarnya tergantung bagaimana sipengguna alat menggunakan alat dan topografi yang baik. Pada kenyataannya topografi pada hutan mangrove tidak datar. Karena keadaan lumpur yang tebal maka ketinggian yang sebenarnyapun sulit didapat. Semakin rapat suatu tegakan bukan berarti semakin baik kondisi lingkunnya. Karena ada berbagai aspek yang sebenarnya perlu dipertimbangkan lebih matang.















KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  1. Diagram profil pada hutan mangrove yang baik lebih rapat dibandingkan di daerah yang terganggu.

  2. Penyebaran tajuk pada dua lokasi yang berbeda pada dasarnya adalah hampir sama. Artinya lokasi tidak menentukan luasan suatu sebaran tajuk.

  3. Jenis Bruguiera gymnorhiza lebih mendominasi.

  4. Lapisan tajuk tergolong dalam kelas C.

  5. Pohon pada hutan mangrove Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat adalah pohon masa depan.
B. Saran
Penggambaran diagram profil hutan mangrove merupakan salah satu praktikum yang membutuhkan ketelitian yang tinggi, hendaknya pada saat melakukan praktikum ini praktikan lebih tanggap dan cermat dalam menghadapi medan dan menghitung penggambaran diagram profil.















1 komentar: