Selasa, 23 Februari 2010

PEMBUATAN BELOKAN


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Adapun yang melatarbelakangi penulis melakukan percobaan ini agar mengetahui bahwa belokan merupakan unsur utama yang tidak lepas dalam kehidupan maniusia sehari-hari. Tikungan jalan, belokan rel kereta api dan pinggiran sungai merupakan hal nyata yang dapat kita bayangkan atau kita lihat. Maka, tidaklah salah kalau kita sebagai mahasiswa setidaknya mengetahui proses pembuatannya. Belokan tiidak bias dibentuk oleh satu atau dua titik saja, namun harus lebih dari itu. Belokan pada umumnya berbentuk lengkungan yang tidak selalu mampu menghubungkan titik yang satu dengan yang lain. Belokan memiliki sudut. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam membuat suatu belokan diantaranya sudut azimuth titik belokan, titik bidik, titik utama, panjang tali busur, titik-titik detail, banyak titik detail dan sudut detail.
Pembuatan busur lingkaran di lapangan dijumpai pada waktu membuat jalan raya, jalan kereta api, saluran air untuk pengairan dan sebagainya. Busur lingkara digunakan untuk menghubungkan dua arah yang berpotongan, supaya perpindahan dari arah pertama kea rah kirinya berjalan dengan lancar. Dari busur lingkaran ini akan ditentukan titik-titiknya dengan jumlah yang cukup, hingga letak busur lingkaran itu di lapangan dapat dibuat dengan jelas. Di lapangan harus ditentukan lebih dahulu dengan piket dua garis yang harus dihubungkan dengan busur lingkaran, misalnya garis-garis AB dan CD. Selanjutnya harus diketahui jari-jari R busur lingkaran (Wongsotjitro, 1985).
Garis sumbu terdiri dari bagian yang lurus dan belok pada bagian yang membelok. Bagian yang membelok terdiri dari bermacam-macam jenis belokan tetapi dapat dibagi menjadi tiga tipe utama belokan, yaitu:
1. Belokan datar
2. Kurva vertikal
3. Belokan profil melintang
Dahulu belokan-belokan datar dibentuk oleh garis-garis lurus dan belokan melingkar sederhana. Pada saat ini belokan yang digunakan adalah tipe belokan melingkar sederhana dan belokan-belokan tertutup (Gayo, 2005).
Di Inggris, lengkungan diberi nama sesuai dengan panjang jari-jarinya. Karena umumnya pada keleluasaan dalam pemilihanjari-jarinya biasanya merupakan kelipatan 50m. lengkungan dapat diberi nama sesuai dengan derajat kelengkungannya yang didefinisikan sebagai banyaknya derajat yang berhadapan dengan pusat suatu busur yang panjangnya 100m. Derajat kelengkungan dinyatakan sebagai bilangan derajat bulat (Irvine, 1995).
Definisi-definisi permukaan datar dan garis horizontal , jelas bahwa garis horizontal memisah diri dari permukaan datar karena adanya kelengkungan bumi. Pengaruh biasan yang dapat membuat objek kelihatan lebih tinggi dari pada sebenarnya (dan karenanya menyebabkan pembacaan rambu terlalu kecil) dapat diingat dengan memperhatikan apa yang terjadi bila matahari ada di horizon. Garis tengah kira-kira 32 menit, kira-kira sama dengan biasan rata-rata pada bidikan horizontal. Penyimpangan akibat biasan itu berubah-ubah. Besarnya tergantung pada kondisi atmosferik, panjang garis dan sudut antara garis bidik dengan arah vertikal. Untuk bidikan horizontal berlawanan arah (Brinker, 1986).

Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan praktikum yang berjudul Pembuatan Belokan adalah untuk menghubungkan dua garis yang saling berhubungan sehingga perpindahan jalur yang satu dengan yang lain dapat berjalan lancar.











TINJAUAN PUSTAKA

Titik pusat P lingkaran tidak dinyatakan di atas lapangan lapangan, karena itu tidak dapat digunakan. Untuk menentukan titik-titik yang letak di atas busur lingkaran, cukuplah bila telah diketahui dua garis AB dan CD yang dinyatakan oleh piket-piket A, B, C, D dari jari-jari R ditentukan untuk jalan raya dan jalan kereta api berhubungan dengan kecepatan kendaraan melalui busur lingkaran, sedang jari-jari R ditentukan untuk saluran air dan sebagainya berhubungan pula dengan kecepatan air yang harus disalurkan dengan busur lingkaran. Untuk dapat menentukan tempat titik S dapat menentukan tempat titik sebagai titik potong garis-garis AB dan CD, buatlah dengan cara yang telah diketahui. Titik-titik E dan F yang letak pada garis AB dan titik-titik G dan H letak kira-kira tidak jauh dari titik S yang dicari dan jarak EF dan GH tidak lebih besar daripada panjang pegas ukur lainya melalui titik-titik G dan H. Dengan demikian titik S dapat dengan mudah ditentukan (Wongsotjitro, 1985).
Unsur belokan melingkar sederhana merupakan unsur belokan yang terbentuk secara sederhana. Adapun unsur belokan sederhana tersebut adalah sebagai berikut.
AB = S = Panjang busur
AB = l = Panjang kord (garis yang menghubungkan ujung-ujung belokan)
R = Jari-jari
I = Sudut persilangan
AB = BC= t = Panjang tangent P.GS
σ = Sudut lenturan
ED = Ordinat tengah
CD = Scans luar.
Hubungan unsur-unsur tersebut di atas adalah sebagai berikut.
AB = l = 2 R sin θ/2
AB = S = R θ rad
CD = R (sec ½ - 1)
DE = R (1 – cos I/2)
t = AC- R tan I/2 (Gayo, 2005).
Sering terjadi di lokasi bahwa titik-titik berpotongan tidak dapat ditempati karena beberapa rintangan. Posisi relatif tangen AI dan IB harus didapat dengan mengukur poligon diantara keduanya. Kondisi tanah untik mengukur permukaan akan menentukan rute poligon. Poligon yang paling sederhana diantara tangen-tangen itu adalah satu garis lurus antara dua stasiun C dan D. sudut ACD dan CDB diukur bersama-sama dengan jarak AC dan CD. Penjarak dari C dengan demikian dapat diketahui. Tiga tangen harus dihubungkan oleh lingkaran bundar, jari-jarinya tidak diketahui dan harus dihitung. Syarat yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap tangen harus menyinggung lingkaran jari-jari R. Masalahnya cukup sederhana jika hanya mempertimbangkan tangent AB dan BC saja. Beda Tinggi (BT) merupakan panjang tangent yang sama, yang disampingkan dengan sudut θ. Maka BT1 = BT2 = R tan θ/2. dengan memperhatikan tangent BC dan CD saja (Irvine, 1995).
Luas bidang tanah yang satu sisi batasnya berbentuk lengkung dapat ditemukan dengan jalan membagi dua bagian: sebanyak ABCDEFGA, dihitung dengan sektor EFG. Jari-jari R = EG = FG dan salah satu sudut pusat EFG dapat dihitung. Jika R dan sudut pusat θ diketahui, maka luas sektor EFG= π R2 x (θ0/3600). Jika panjang tali busur EF diketahui, sudut θ = arc sin (EF/ 2R) dan persamaan sebelumnya dipakai untuk menghitung dengan DMD atau metode koordinat. Sebagai keseragaman, panjang dan arah tali busur EF dapat dihitung dan luas segmen EF ditambahkan pada luas ABCDEFA, dan sudut XFE sama dengan setengah sudut EGF. Sebuah poligon dapat digambarkan menurut skala, dibagi-bagi menjadi beberapa segitiga, sisi-sisinya diukur dan luasnya dicari. Metode ini tidak seteliti hitungan memakai pengukuran di lapangan, tetapi prosedurnya berguna untuk tujuan-tujuan pengecekkan (Brinker, 1995).
Posisi titik pada bidang proyeksi dinyatakan dengan koordianat siku-siku bidang datar (x,y). x (sudut absis) merupakan jarak titik terhadap sumbu x. sumbu y dari system koordinat tersebut merupakan proyeksi garis meridian terpilih (disebut meridian tengah atau center meridian) yang bentuknya berupa garis lurus, sedangkan sumbu x-nya merupakan proyeksi garis meridian terpilih (disebut garis lurus yang berpotongan secara tegak lurus terhadap sumbu y di titik 0 (nol)). Pada umumnya dalam sistem proyeksi conform, lengkungan meridian, lingkaran paralel, dan garis geodetic akan diproyeksikan pada bidang datar dalam bentuk lengkung pula( kecuali proyeksi meridian tengah yang berbentuk garis lurus), tetapi untuk system proyeksi tertentu( misalnya pada proyeksi mercator) garis-garis lengkung tersebut diatas akan diproyeksikan menjadi garis-garis lurus. Untuk memberika gambar yang lebih jelas tenteng hal tersebut diatas. Indonesia telah mengenal dan mempergunakan berbagai system proyeksi peta, yang hingga saat ini sistem proyeksi tersebut masih dapat dijumpai dalam beberapa lebar pada system proyeksi Lambert atau di negara Indonesia dikenal dengan sebutan proyeksi Polyeder, dan proyeksi Universal Transvere Mecator (Subagio, 2003).























METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Adapun praktikum yang berjudul Pembuatan Belokan dilaksanakan pada hari Rabu, 17 September 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah:

  1. Data pembuatan belokan sebagai objek untuk dihitung dan dimasukan kedalam peta.

  2. Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari data.

  3. Kertas millimeter A2 sebagai media gambar
Adapun alat yang digunakan adalah:

  1. Busur sebagai alat pengukur sudut.

  2. Jangka sebagai alat pembuat lingkaran atau lengkungan.

  3. Penggaris sebagai alat untuk menggaris.

  4. Kalkulator sebagai alat untuk menghitung.

Prosedur Praktikum
1. Ditentukan azimuth ab (αab).
2. Ditentukan titik belokan Ti (T1a) dan ditentukan titik S.
ST­1 = ST2 = R tan ½ β
½ β = 90 0 -1/2 α
3. Ditentukan αab dari titik S (αba = 1800 + αab)
4. Ditentukan αsc dengan rumus : αsc = αba­ α
5. Dari titik S dibidik dan ditentukan T2 (ST2 = ST1)
6. Ditentukan titik utama M dan S (SM = R tan ½ β tan ¼ β)
7. Ditentukan panjang tali busur (PTB)
PTB = β/ 3600 x 2 π r
8. Ditentukan titik-titik detail:
T1a’ = k cos ½ θ
aa’ = k sin ½ θ
ab’ = bc’ =cd’ = …. k cos θ
bb’ = cc’ =dd’ = …. k sin θ
BTD = PTB/ k
θ = sudut detail (θ = β/ BTD)








Contoh hasil pembuatan belokan















HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Diketahui :α = 800
αab= 300
R = 30 cm
k = 4,5 cm
Maka:
αba = 1800 + αab PTB = β/ 3600 x 2 π r
= 1800 + 300 = (1000/ 3600) 188,4
= 2100 = 52,33
αsc = αba­ α BTD = PTB/ k
= 2100 - 800 = 52,33/ 4,5
= 300 = 11,63
½ β = 90 0 -1/2 α θ = β/ BTD
= 90 0 -1/2 (800) = 1000/ 11,63
= 900 – 400 = 8,6
= 500 T1’a = k cos ½ θ
β = 1000 = 4,5 cos 4,3
ST­1 = ST2 = R tan ½ β = 4,49
= 30 cm tan 500 aa’ = k sin ½ θ
= 30 cm x 1,19 = 4,5 sin 4,3
= 35,7 cm = 0,34
T2 = (ST2 = ST1) = 35,7 cm ab’ = bc’ =cd’ = …. k cos θ
SM = R tan ½ β tan ¼ β = 4,5 cos 8,6
= 30 cm tan 500 tan 250 = 4,45
= 30 cm x 1,19 x 0,47 bb’ = cc’ =dd’ = …. k sin θ
= 16,8 cm = 4,5 sin 8,6 = 0,675

Pembahasan
Dalam membuat suatu belokan ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya panjang busur, jari-jari dan sudut persilangan. Hal ini sesuai dengan literatur Gayo (2005) yang menyatakan bahwa unsur belokan melingkar sederhana merupakan unsur belokan yang secara sederhana. Adapun unsur belokan sederhana tersebut adalah sebagai berikut; AB = S = Panjang busur, AB = l = Panjang kord (garis yang menghubungkan ujung-ujung belokan), R= Jari-jari, I= Sudut persilangan, AB = BC= t = Panjang, tangent P.GS, σ = Sudut lenturan, ED = Ordinat tengah, CD = Scans luar.
Untuk meletakkan titik yang terletak di atas busur lingkaran dapat diketahui setelah ada dua garis yang diketahui yang dapat dinyatakan dalam piket-piket. Hal ini sesuai dengan literatur Wongsotjitro (1985), yang menyatakan bahwa Titik pusat P lingkaran tidak dinyatakan di atas lapangan lapangan, karena itu tidak dapat digunakan. Untuk menentukan titik-titik yang letak di atas busur lingkaran, cukuplah bila telah diketahui dua garis AB dan CD yang dinyatakan oleh piket-piket A, B, C, D dari jari-jari R ditentukan.
Dalam membuat belokan sering terjadi kesulitan atau kesalahan dalam menentukan titik perpotongan di beberapa posisi relif yang tidak datar. Hal ini sesuai literatur Irvine (1995) yang menyatakan bahwa sering terjadi di lokasi bahwa titik-titik berpotongan tidak dapat ditempati karena beberapa rintangan. Posisi relatif tangen AI dan IB harus didapat dengan mengukur poligon diantara keduanya. Kondisi tanah untik mengukur permukaan akan menentukan rute poligon. Poligon yang paling sederhana diantara tangen-tangen itu adalah satu garis lurus antara dua stasiun C dan D. sudut ACD dan CDB diukur bersama-sama dengan jarak AC dan CD. Penjarak dari C dengan demikian dapat diketahui. Tiga tangen harus dihubungkan oleh lingkaran bundar, jari-jarinya tidak diketahui dan harus dihitung. Syarat yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap tangen harus menyinggung lingkaran jari-jari R.







KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Untuk mendapatkan hasil belokan yang maksmal diperlukan titik detail yang banyak.
2. Peta perpanjangan tali busur titik-titik detail diproyeksikan pada perpanjangan tali busur yang melalui titik di belakangnya.
3. Dari hasil percobaan yang penulis lakukan didapat:
αba = 2100
αsc = 300
ST­1 = ST2 = 35,7 cm
SM = 16,65 cm
PTB = 52,33 cm
BTD = 11,63 cm
T1a’ = 4,49
aa’ = 0,34
ab’ = bc’ =cd’ = 4,45
bb’ = cc’ =dd’ = 0,675
4. Belokan dibuat sebagai upaya memperlancar antara suatu jalur dengan jalur lain.
5. Belokan tidak dapat dibentuk oleh satu atau dua titik saja.
6. Belokan tergambar berupa lengkungan yang mempunyai sudut tertentu.
7. Tipe belokan ada tiga, yaitu: belokan datar, vertikal dan profil melintang.
8. Titik-titik utama busur lingkaran terdiri dari titik awal dan titik akhir.

Saran
Diharapkan agar para praktikan memahami terlebih dahulu konsep belokan sebelum mempraktekkannya di lapangan. Para praktikan juga diharapkan serius dan telaten dalam menjalankan praktikum agar data yang didapat maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar