Selasa, 02 Maret 2010

PENANAMAN DAN REHABILITASI HUTAN MANGROVE


PENANAMAN DAN REHABILITASI
HUTAN MANGROVE

Metode praktik
Kegiatan penanaman dilakukan pada hari kamis, 18 Juni 2009 pukul 11.30 WIB. Metode yang digunakan di Hutan mangrove berbeda dengan metode yang telah dilakukan sebelumnya terhadap pohon-pohon baik didataran maupun di pegunungan. Metode yang digunakan adalah dengan menancapkan propagul ke dalam substrat lahan mangrove yang berdekatan satu dengan yang lainnya.
Langkah-langkah yang dilakukan di dalam kegiatan penenman di Hutan mangrove ini adalah sebagai berikut:

  1. Propagul dipanen dari tegakan mangrove yang telah memiliki buah yang telah siap untuk ditanam sebab propagul tersebut telah dibuahi pada saat masih dipohon dan istilah ini disebut dengan vivipari.

  2. Propagul kemudian ditancapkan ke dalam lumpur dengan tidak menempatkannya dekat dengan hempasan ombak / gelombang laut. kemudian ditancapkan pada lahan-lahan kosong dekat perakaran vegetasi mangrove.

  3. Penanaman propagul ini sebaiknya dilakukan dengan menancapkannya sepertiga dari tinggi propagul.

  4. Propagul ditanam dengan membuat jarak tanam antara satu dengan yang lainnya sejauh 1 x 1 m.

Hasil dan Pembahasan
Hasil
Dalam kegiatan penanaman propagul, jumlah bibit yang disediakan adalah sebanyak 1880 buah propagul yang masing-masing kelompok diberi tugas untuk menanam 125 bibit dan selebihnya dilakukan penanaman secara bersama-sama.
Lahan yang ditanami adalah lahan kosong yang berlumpur dan tergolong basah, akan tetapi sebagian permukaan tanah ada yang keras sehingga dalam penanaman membutuhkan alat bantu pembuat lobang seperti cangkul, se4hingga penanaman dapat dilakukan dalam jangka waktu kurang lebih 1 jam.


Pembahasan

Hutan mangrove merupakan hutan yang berada pada daerah pasang surut air laut yang merupakan peralihan dari air tawar dan air laut. Oleh karena itu, Hutan Mangrove dikatakan merupakan hutan yang cukup unik. Peranannya cukup besar untuk mengatasi intrusi air laut dan menjaga kawasan di belakang pantai dari hempasan gelombang air laut.
Adapun propagul adalah merupakan bentuk anakan dari jenis-jenis mangrove menurut Whitten (1984), kebanyakan rhizoporaceae, seperti Rhizopora spp, dan Bruguiera spp, setelah buahnya masak dan sebelum dilepaskan oleh pohon induk, biji-bijinya berkecambah di dalam buah dan menyerap makanan dari pohon induk. Akar pertama atau hipokotil dari kecambah menembus kulit buah dan tumbuh ke bawah.
Bentuk penanaman jenis mangrove yang paling mudah adalah dengan menggunakan propagul. Pertimbangan teknis penanaman tidak terlalu dipersoalkan karena sederhana dan hemat waktu dan memiliki kecenderungan keberhasilan tumbuh melebihi 90% serta tegakannya tambah baik.
Kegiatan ini merupakan kegiatan penanaman hutan kembali yang biasa disebut dengan reboisasi. Cara ini sangat efektif untuk proteksi reforestasi hutan dalam skala besar. Apabila dibutuhkan, maka cara ini mudah untuk dilakukan bagi masyarakat sekitar pantai sehingga keberlangsungan keberadaan huitan mangrove tetap lestari.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahsan tersebut, dapat ditarik beberapa kesimpulan yakni:

  1. Kegiatan penanaman di hutan Mangrove adalah reboisasi

  2. Penanaman mangrove dengan menggunakan propagul memiliki tingkat keberhasilan yang lebih besar.

  3. Hutan Mangrove memiliki peranannya cukup besar untuk mengatasi intrusi air laut dan menjaga kawasan di belakang pantai dari hempasan gelombang air laut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar