Senin, 16 Agustus 2010

PAPYRUS/ PAPIRUS/ LONTAR

PAPYRUS (LONTAR)

         Papirus atau papyrus memiliki nama ilmiah Cyperus papirus merupakan sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis halus papirus, sebelum kertas (seperti yang kita kenal sekarang) ditemukan.
        Secara fisik, daun pohon ini mirip rambut terjurai. Tangkainya tumbuh setinggi 3-5 meter, berbentuk segitiga secara bersilangan. Di sekeliling dasar tangkai tersebut tumbuh dedaunan berserabut pendek. Karakter pohon papirus sangat halus, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga besar, nyaman, dan berbentuk rumbai. Konon karena perubahan geografis di daerah sungai Nil dan berkembangnya pemakaian kulit binatang sebagai media untuk menulis, papirus di Mesir tidak lagi berkembang biak dengan suburnya. Penanaman menjadi sukar dan populasi papirus menurun dengan drastis. Namun demikian, sekarang papirus banyak tumbuh di tepi-tepi danau kecil dan sungai-sungai di Afrika.
Nama/istilah PAPYRUS mengacu kepada 3 hal yaitu :
1. Tumbuh-tumbuhan air yang besar dari family gelagah
2. Suatu alat tulis yang dibuat dari sumsum yang terkandung didalamnya
3. Naskah tulisan tangan (manuskrip) yang memakai bahan tulis ini.
Kata Papyrus mungkinditurunkan dari kata "papuro" bahasa Koptik kuno (Mesir kuno). Dalam bahasa Yunani πάπυρος – papuros, adalah asal kata dari kata Inggris "paper" atau "papier" Belanda = Kertas. Kata dalam bahasa koptik "papuro" ini bermakna "termasuk milik raja", mengisyaratkan bahwa pembuatan kertas termasuk monopoli raja pada zaman dulu.
        Untuk membuat kertas batangnya dikuliti. Lalu dipotong-potong dalam ukuran kira-kira 40-45 cm dan sumsumnya yang masih baru yang ada di dalamnya diiris tipis-tipis menjadi pita-pita. Pita-pita ini diletakkan berjejer berdampingan diatas papan yang keras, yang satu menindih sedikit yag lain, dan demikianlah seterusnya, tapi saling menyilang dengan sudut siku-siku; lalu kedua lapis ini disatukan seluruhnya, hanya dengan menunbuknya kuat-kuat dengan palu kayu. Sedudah tepi-tepinya dipotong bagus dan agak dihaluskan, hasilnya ialah selembar kertas yang keputih-putihan, yang bisa tahan lama, tapi bisa berubah menjadi kekuning-kuningan dalam perjalanan umurnya.
         Halaman yang serat-seratnya mendatar, itulah yang biasanya yang lebih dahulu ditulisi (kecuali untuk surat-surat) dan halaman itu disebut rekto; halaman baliknya dengan serat-serat yang tegak lurus disebut verso. Lembaran-lembaran ini direkatkan pada ujungnya yang satu kepada yang lain dengan saling bertindih sedikit, untuk membuat gulungan papyrus atau kertas. Patokan panjangnya adalah 20 lembar, tapi dapat diperpendek dengan memotongnya sedikit, atau diperpanjang dengan menempelkan lagi lembaran-lembaran yang lain sesuai keperluannya. Papyrus terpanjang yang kita kenal ialah PAPYRUS HARIYS I, tahu penulisannya kira-kira 1160 sM, sekarang disimpan di British Museum, London; panjangnya hampir kira-kira 40 meter.

           Lembar papyrus berbeda-beda menurut kegunaannya, ukuran terbesar lebarnya ± 47 Cm, ukuran biasa 35.5 Cm dan 42 Cm, ukuran yang lebih kecil ± 18-21 Cm. Lembaran papyrus ukuran besar dan sedang biasanya untuk surat-surat resmi, surat dagang dan rekening. Sedangkan lembaran papirus yang kecil biasanya untuk karya-karya sastra.
Sumber:
http://www.azwar.web.ugm.ac.id Powered by Joomla! Generated: 16 August, 2010, 19:31
http://www.sarapanpagi.org/papyrus-vt846.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar