Selasa, 23 Februari 2010

PEMBUATAN KONTUR


PENDAHULUAN

Latar belakang
Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang terdapat diatas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda-tanda dan keterangan-keterangan, sehingga mudah dibaca dan dimengerti. Jadi peta adalah hasil pengukuran dan penyelidikan yang dilaksanakan baik langsung maupun tidak langsung mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah. Peta dapat memberikan gambaran mengenai kondisi atmosfer, mengenaii kondisi permukaan tanah, mengenai keadaan lautan, mengenai bahan yang membentuk lapisan tanah dan lain-lain. Adapun peta-peta yang memberikan gambaran mengenai hal-hal tersebut diatas, berturut-turut disebut peta meteorology, peta permukaan tanah, peta hidrografi, peta geologi dan lain-lain yang kesemuanya adalah peta dalam arti yang luas.
Dengan mempelajari cara pembuatan kontur dapat kita ketahui keadaan wilayah hutan yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama sehingga dapat mengetahui tinggi rendahnya suatu wilayah . Hal tersebut berguna untuk mengetahui apa tanaman yang cocok dan cara yang cocok dalam system penanaman kayu. Dengan cara mempelajari cara pembuatan kontur dapat kita ketahui wilayah hutan yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama sehingga dapat mengetahui tinggi dan rendahnya suatu wilayah. Hal tersebut berguna untuk mengetahui apa tanaman yang cocok dan cara yang cocok dalam sistem penanaman kayu (Henrick, 1995).
Jika kita ingin melakukan suatu kegiatan yaitu analisis vegetasi dalam suatu ilmu ekologi, satu hal atau hal yang kita ketahui adalah mengenai kontur, terutama apabila melakukan analisis terhadap vegetasi itu di daerah pegunungan. Kita harus mengambil petak contoh di daerah sekitarnya yang memiliki ketinggian berbeda–berbeda, agar petak contoh yang diambil dapat mewakili keanekaragaman jenis. Daerah–daerah yang mewakili perbedaan ketinggian yang berbeda–berbeda inilah yang sering kita sebut dengan kontur secara umum. Dalam penggambaran konfigurasi tanah atau relief tanah ke dalam suatu bentuk peta banyak digunakan simbol–simbol antara lain relief model serta garis kontur dimana kedua simbol ini yang paling sering dipakai dalam menyusun sebuah peta. Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Beda kontur dalam penggambaran tergantung dari skala yang telah ditentukan. Dari bilangan skala tersebut selanjutnya dapat digamabar atau dibuat peta. Penggambaran garis kontur hanya boleh dilakukan dengan melakukan interpolasi antara dua buah titik detail saja. Pemulihan nilai ketinggian garis kontur untuk penggambaran diambil bertahap untuk disesuaikan dengan kelipatan beda kontur sesuai interval kontur, karena interval kontur merupakan jarak antara dua kontur yang berbeda .

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pembuatan Kontur adalah untuk melatih mahasiswa dalam pembuatan peta kontur dengan pola radial dan mengetahui konfigurasi lahan ( pola atau bentuk lahan ) .

















TINJAUAN PUSTAKA

Berdasarkan isinya peta dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu peta umum dan peta khusus (tematik). Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu tempat (daerah), baik penampakan yang terdapat di suatu tempat, baik kenampakan fisis, misalnya sungai, gunung, laut, danau dan lainnya. Kenampakan sosial, misalnya jalan raya, jalan kereta api, pemukiman kota dan lainnya. Peta umum ada dua jenis, yaitu peta topografi dan peta khorografi. Peta topografi yaitu peta yang menggambarkanbentuk relief permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (contur line), yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama. Peta khorografi merupakan peta yang menggambarka seluruh atau sebagian permukaan bumi dengan skala yang lebih kecil. Dalam peta khorografi digambarkan semua kenampakan yang ada pada suatu wilayah. Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat dan untuk memperhatikan tingkat keamanan suatu lereng. Ciri utama peta topografi adalah menggunakan garis kontur. Dimana garis tersebut dapat memberikan informasi baik secara relif maupun secara absolut (Wongsotjitro, 1985).
Garis kontur adalah suatu garis yang menghubungkan tempat–tempat yang sangat tinggi dan suatu permukaan tanah di dalam peta. Dari simbol–simbol yang ada garis kontur yang lebih sering dipakai dalam penggambaran sebuah peta, karena selain banyaknya elevasi yang dapat digambarkan, garis kontur merupakan petunjuk langsung dari suatu elevasi tertentu. Garis kontur ini dapat kita bayangkan sebagai tepi dari suatu danau atau laut. Kerapatan jarak kontur pada suatu peta dengan lainya menunjukkan keadaan wilayah yang curam. Sebaliknya semakin jarang jarak antara garis kontur pada suatu peta menunjukan bahwa daerah yang disebut termasuk dalam kategori landai (Frick , 1991).
Garis kontur merupakan sebuah garis yang digambarkan pada daerah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama diatas atau dibawah datum tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami jika kita mempu membayangkannya. Dengan mempelajari pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaan wilayah hitam yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama. Di dalam pembuatan kontur, terdapat beberapa sifat – sifat garis kontur yaitu :

  1. Jarak horizontal 2 buah garis kontur akan semakin rapat dengan kontur interval .

  2. Pada tanah dengan lereng seragam maka garis kontur akan semakin sejajar dan berjarak satu sama lain .

  3. Garis–garis kontur tidak akan berpotongan satu sama lain kecuali dalam keadaan khusus.

  4. Pada permukaan datar atau rata garis kontur akan merupakan suatu garis lurus, berjarak sama dan sejajar satu sama lain.

  5. Suatu garis kontur tidak akan terletak pada dua buah garis kontur yang lebih tinggi atau lebih rendah evaluasinya.
Garis- garis kontur memberikan informasi yang maksimum tentang daerah peta, dan tidak menyembunyikan rincian peta lainnya yang penting garis kontur juga memperhatikan elevasi dan konfigurasi permukaan tanah (Ligfesink, 1973).
Garis–garis kontur memberikan informasi yang maksimum tentang daerah peta, dan tidak menyembunyikan rincian peta lainnya yang penting. Garis kontur juga memperlihatkan elevasi dan konfigurasi permukaan tanah. Elevasi titik –titik yang tidak terletak diatas garis kontur bisa dicari dengan interpolasi antara dua garis kontur yang terletak dikedua sisi titik tersebut. Adapun bidang acuan umum yang sering dipakai adalah bidang permukaan laut rata-rata. Informasi relief secara absolut memperlihatkan dengan cara menuliskan nilai kontur yang merupakan garis ketinggian tersebut di atas di suatu bidang tertentu (Irvine, 1995).







METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Adapun praktikum yang berjudul Pembuatan Kontur dilaksanakan pada hari Rabu, 17 September 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah:

  1. Data pembuatan kontur sebagai objek untuk dihitung dan dimasukkan ke dalam peta.

  2. Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari
Geodesi dan Kartografi.

  1. Kertas millimeter A2 sebagai media gambar
Adapun alat yang digunakan adalah:
1. Busur sebagai alat pengukur sudut.
2. Kalkulator sebagai alat penghitung.
3. Penggaris sebagai alat pemersatu titik atau menggaris.
4. Pulpen sebagai alat pencatat data.
5. Pengapus sebagai alat menghapus kesalahan gambar.
6. Pinsil mekanik sebagai alat menggambar peta.

Prosedur Praktikum

  1. Dicatat data pembuatan kontur dalam kertas data.

  2. Dihitung interval, jumlah titik, dan jarak antar titik kontur dengan data yang telah tersedia.

  3. Dilakukan penggambaran dalam kertas grafik A2, dengan arah utuara sebagai acuan.

  4. Ditentukan posisi alat I dalam penggambaran kertas grafik A2.

  5. Ditarik garis dari titik I sesuai dengan derajat yang telah diketahui kea rah titik P sesuai dengan tinggi yang telah ditentukan pada data yang tersedia.

  6. Ditarik garis dari titik satu kearah titik a, b, dan c sesuai dengan derajat dan ketinggiannya.
Ditarik memberikan informasi yang maksimum tentang daerah peta, dan tidak menyembunyikan rincian peta lainnya yang penting. Garis kontur juga memperlihatkan elevasi dan konfigurasi permukaan tanah. Elevasi titik –titik yang tidak terletak diatas garis kontur bisa dicari dengan interpolasi antara dua garis kontur yang terletak diked
ua sisi titik tersebut. Adapun bidang acuan umum yang sering d(mdpl)
BT
Ket





Mi
Bi
Detail
























HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 4.1 kontur
Titik Batas
Tempat Alat
Azimuth
Jarak pada Peta
Lx
(m)
Tinggi
(mdpl)
BT
Ket
Mi
Bi
Detail
P

a
b
c

d
e
f

I



II

600



2400
3100




120
1200
1160

3380
880
1580
4
5
4
3,5
4,5
4
4,5
4,5
5
80
100
80
70
90
80
90
90
100
80
100
80
70
90
80
90
90
100
20
20
20
30
10
20
10
10
20
I-P
I-II
I-a
I-b
I-c
II-I
II-d
II-e
II-f

Pembahasan
Kontur merupakan garis khayal yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama, dan digolongkan dalam peta umum dan termasuk dalam peta topografi. Hal ini sesuai dengan literatur Wongsotjitro (1985) yang menyatakan bahwa berdasarkan isinya peta dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu peta umum dan peta khusus (tematik). Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu tempat (daerah), baik penampakan yang terdapat di suatu tempat, baik kenampakan fisis, misalnya sungai, gunung, laut, danau dan lainnya. Kenampakan sosial, misalnya jalan raya, jalan kereta api, pemukiman kota dan lainnya. Peta umum ada dua jenis, yaitu peta topografi dan peta khorografi. Peta topografi yaitu peta yang menggambarkanbentuk relief permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (contur line), yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama. Peta khorografi merupakan peta yang menggambarka seluruh atau sebagian permukaan bumi dengan skala yang lebih kecil.
Makin rapat jarak kontur yang satu dengan yang lain pada suatu peta menandakan daerah tersebut tergolong curam, dan sebaliknya jika semakin jarang maka daerah yang dimak suk semakin landai. Hal ini sesuai dengan literatur Frick (1991) yang menyatakan bahwa garis kontur adalah suatu garis yang menghubungkan tempat–tempat yang sangat tinggi dan suatu permukaan tanah di dalam peta. Dari simbol–simbol yang ada garis kontur yang lebih sering dipakai dalam penggambaran sebuah peta, karena selain banyaknya elevasi yang dapat digambarkan, garis kontur merupakan petunjuk langsung dari suatu elevasi tertentu. Garis kontur ini dapat kita bayangkan sebagai tepi dari suatu danau atau laut. Kerapatan jarak kontur pada suatu peta dengan lainya menunjukkan keadaan wilayah yang curam. Sebaliknya semakin jarang jarak antara garis kontur pada suatu peta menunjukan bahwa daerah yang disebut termasuk dalam kategori landai.
Jarak horizontal dua buah garis kontur akan semakin sejajar dan berjarak sama satu sama lain. Hal ini sesuai dengan literatur Ligfesink (1937) yang menyatakan bahwa garis kontur merupakan sebuah garis yang digambarkan pada daerah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama diatas atau dibawah datum tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami jika kita mempu membayangkannya. Dengan mempelajari pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaan wilayah hitam yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama. Di dalam pembuatan kontur, terdapat beberapa sifat – sifat garis kontur salah satunya adalah Jarak horizontal 2 buah garis kontur akan semakin rapat dengan kontur interval .



KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini adalah :

  1. Garis kontur adalah garis–garis yang berada pada peta yang menghubungkan dua titik di peta dengan ketinggian yang sama.

  2. Data yang didapat harus akurat, karena data menentukan peta kontur yang akan dibuat.

  3. Dua garis kontur yang mempunyai ketinggian sama tidak dapat dihubungkan menjadi satu garis kontur.

  4. Garis–garis kontur harus berjarak sama, kecuali tersedia data yang menunjukkan data sebaliknya.

  5. Garis kontur harus tegak lurus terhadap jurusan kelandaian maksimum.

  6. Dalam praktikum garis kontur diperlukan ketelitian supaya data yang diperoleh akurat.

  7. Dalam pembuatan peta, garis kontur sangat perlu untuk diketahui karena bumi ini tidak semuanya yang rata.

  8. Dengan cara mempelajari cara pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaan wilayah hutan yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama.

Saran
Dalam penggambaran kontur, diharapkan kepada para praktikum harus kiranya sesuai dengan data yang disediakan, agar gambar sesuai dengan data yang disediakan, agar gambar sesuai dengan hasil yang didapat oleh praktikan .

PENGUKURAN SIPAT DATAR MEMANJANG


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kesalahan utama dalam sipat datar memanjang adalah kesalahan tidak dengan jumlah pengukuran yang diadakan sedang jumlah pengukuran yang diambil tergantung pada besarnya jarak yang diukur. Menyipat datar memanjang disengaja dan besarnya dianggap sebanding keliling, biasanya untuk satu penyipatan datar yang memerlukan perbedaan tinggi dua titik dengan jarak yang tidak jauh kita pilih. Jalan yang sama untuk penyipatan pergi dan penyipatan pulang sehingga kita mendapat tinggi beberapa titik lagi yang penyipatan datar ini berbentuk segi banyak. Suatu segi banyak ini dapat kita letakkan misalnya sekeliling suatu lapangan, gedung dan lain sebagainya yang akan kita sipat lagi dengan teliti pada pengerjaan lanjutan, pada banyak Negara sudah dilakukan suatu jaringan titik (Irvene, 1995).
Jenis- jenis instrumen yang dipakai dalam sipat datar memanjang adalah jenis Y (wye), jenis semua tetap (Dumpy), jenis semua tetap dengan pengungkit , jenis automatic, jenis laser pelacak dan jenis geodetic seksama. Untuk pengerjaan begitu teliti, sering dipakai alat sipat datar tangan, walaupun masing-masing instrumen agak berbeda, semua mempunyai teropong dan alat untuk mengatur garis titik pada bidang horizontal, kecuali pada alat sipat datar automatic, pengatur dikerjakan dengan skrup penyetel dan tabung nivo (Frick, 1992).
Alat sipat datar diletakkan dua kali diantara dua mistar dengan jarak-jarak kedua mistar yang berlainan dimisalkan untuk pertama kali dengan jarak-jarak kedua mistar yang berlainan dengan jarak ke kiri = d1 dan jarak ke kanan = d2. Kemudian, jarak-jarak itu menjadi d3 dan d4. Pada kedua tempat alat ukur sipat datar didapat pembacaan-penbacaan ke kiri dan kemuka: a1 dan b1 kemudian c1dan e1. Dimisalkan pembacaan-pembacaan dengan gano bidik. Yang mendatar a0 dan b0, dan kemudian c0 dan e0. Pengukuran-pengukuran dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan hubungan/ bayangan antara titik-titik itu atau baik hubungan mendatar dengan tegak, diperlukan sudut-sudut yang harus diukur. Untuk hubungan mendatar maupun hubungan tegak, diperlukan sudut-sudut yang harus diukur. Sudut mendatar diukur pada skala lingkaran yang letak tegak lurus (Dugdale, 1986).

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pengukuran Sipat Datar Memanjang adalah untuk mengukur profil permukaan bumi dan mengetahui beda tinggi antara dua titik atau lebih pada suatu kawasan.

























TINJAUAN PUSTAKA

Dengan adanya pengukuran sipat datar memanjang, kita dapat mengetahui perbedaan tinggi dari suatu daerah, dengan mengetahui tinggi berbagai tempat maka kita mengetahui tinggi areal tersebut dan kita menggambarkan secara detail dan tidak menimbulkan kesulitan yang serius. Dan dengan ini juga mempermudah kita dalam menggambarkan keadaan lokasi tersebut apakah curam atau landai dan sebagainya. Profil sipat datar memanjang ini diperlukan dalam membuat frase jalan ke hutan, untuk mengangkut dan transportasi ke dalam hutan dalam penebangan kayu atau hasil hutan lainnya, atau dengan kata lain hubungannya dengan kegiatan pembukaan wilayah hutan, dalam rangka pengelolaan kawasan hutan secara lestari menimbulkan pula pengetahuan tentang pengukuran untuk bangunan-bangunan kehutanan serta untuk pemetaannya dan masih banyak lagi fungsi yang lainnya (Dugdale, 1986).
Beda tinggi antara dua titik dapat dibentukkan dengan tiga cara:

    1. Dengan cara barometris

    2. Dengan cara trigonometris

    3. Dengan cara pengukuran penyipatan datar
Ketiga cara ini disusun sedemikian hingga ketelitian dari atas kebawah menjadi besar. Cara yang memberi hasil ketelitian terbesar adalah cara pengukuran menyipat datar, sedangkan cara trigonometris dengan cara pengukuran barometris menentukan beda tinggi antara dua titik (Frick, 1992).
Kesalahan utama dalam sipat datar memanjang adalah kesalahan tidak dengan jumlah pengukuran yang diadakan sedang jumlah pengukuran yang diambil tergantung pada besarnya jarak yang diukur. Menyipat datar memanjang disengaja dan besarnya dianggap sebanding keliling, biasanya untuk satu penyipatan datar yang memerlukan perbedaan tinggi dua titik dengan jarak yang tidak jauh kita pilih. Jalan yang sama untuk penyipatan pergi dan penyipatan pulang sehingga kita mendapat tinggi beberapa titik lagi yang penyipatan datar ini berbentuk segi banyak. Suatu segi banyak ini dapat kita letakkan misalnya sekeliling suatu lapangan, gedung dan lain sebagainya yang akan kita sipat lagi dengan teliti pada pengerjaan lanjutan, pada banyak Negara sudah dilakukan suatu jaringan titik (Irvene, 1995).
Telah dikatakan bahwa beda tinggi antara dua titik adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui titik itu sedangkan untuk beda tinggi dapat ditentukan dengan menggunakan garis yang mendatar sembarang dan dua mistar dipasang pada dua titik itu sedangkan beda tinggi dapat ditentukan. Untuk melakukan dan mendapat pembacaan pada mistar dinamakan back, diperlukan suatu garis lurus, selain itu pada pengukuran ini diperlukan juga nivo tabung. Pada nivo tabung ini dijumpai suatu garis lurus mendatar dengan ketelitian yang tinggi (Sastrodarsono, 2005).
Bila jarak antara dua titik A dan B, dari titik-titik mana harus ditentukan beda tingginya, menjadi sebegitu besar, hingga mistar-mistar tidak bisa dilihat dengan terang dan pembacaan menjadi kurang teliti, atau bila keadaan lapangan sedemikian rupa, hingga garis tidak memotong mistar-mistar karena jatuh di atas atau di bawah mistar, maka terpaksalah jarak antara dua titik Adan B itu harus dibagi dalam jarak-jarak yang lebih kecil, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan baik. Jarak-jarak penglihatan dibagi antara 30 m sampai 60 m. Untuk menentukan beda tinggi t, misalnya antara titik A dan titik B yang jaraknya besar sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan baik. Jarak-jarak penglihatan dibagi menjadi beberapa tempat. Ada beberapa cara mencatat pembacaan pembacaan dan menghitung pengukuran-pengukuran yang tergantung pada maksud pengukuran. Pada semua cara digunakan pencatatan dan penghitungan secara tertulis. Semua pembacaan dan jarak ditulis dengan garis yang letak antara titik-titik yang ditempati oleh mistar, titik-titik tersebut ditulis di dalam daftar. Titik-titik yang ditulis di dalam daftar, maka maksud penulisan pengukuran menyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik. Setelah beda tinggi ditentukan, maka tinggi suatu titik dapat dicari, bila beda tinggi yang lain diketahui (Wongsotjitro, 1985).



METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Adapun praktikum yang berjudul Pengukuran Sipat Datar Memanjang dilaksanakan pada hari Rabu, 3 September 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah:

  1. Buku tulis untuk mencatat materi yang diajarkan

  2. Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari Geodesi dan Kartografi.
Adapun alat yang digunakan adalah:

  1. Alat tulis sebagai prasarana pelengkap data

  2. Theodolit manual dan digital sebagai alat pengukur sudut

  3. Jalon sebagai penanda objek yang diamati

  4. Rambu ukur sebagai alat yang menentukan ukuran yang diamati, baik jarak maupun tinggi

  5. Statif sebagai landasan theodolit

  6. Pita ukur sebagai pengukur jarak

  7. Kalkulator sebagai alat untuk menghitung.

Prosedur Praktikum

  1. Ditentukan garis sejauh 30 m kearah mana saja.

  2. Dibuat titik A sebagai titik awal dan B sebagai titik akhir.

  3. Dibagi jarak 30 m tersebut menjadi tiga bagian (masing-masimg 10 m).

  4. Dibuat stasiun antara, sesuai kebutuhan profil tanah yang diukur.

  5. Dibuat titik Bantu (a, b, c, d, ……).

  6. Diukur jarak dan tinggi tanah.

  7. Dipindahkan alat ke stasiun berikutnya setelah pengukuran pada stasiun pertama selesai.

  8. Demikian seterusnya sampai titik akhir.

  9. Dimasukan hasil pengukuran ke dalam tabel

Tabel pengukuran sipat datar memanjang
Stasiun
Posisi alat
Hasil pengukuran
perhitungan
keterangan
Bi
Mi
Dbi
Dmi
BT
TDPL
TGB
A

a
b
1

c
d

I





II









Keterangan tabel:
Bi : Tinggi bacaan ke belakang BT : Beda tinggi
Mi : Tinggi bacaan ke depan TDPL : Tinggi di atas permukaan laut
Dbi : Jarak bacaan ke belakang TGB : Tinggi garis bidik
Dmi : Jarak bacaan ke depan
Formula :
BT = Bi – Mi
TDPL = TDPL +BT
TGB = TDPL + Bi








HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 3.1 pengukuran sipat datar memanjang
Stasiun
Posisi alat
Hasil pengukuran
Perhitungan
keterangan
Bi
Mi
Dbi
Dmi
BT
TDPL
TGB
A

a
b
1

c
d
2

e
f
B






I



II



III







1,465





1,565





1,47


1,565
1,465
1,345

1,47
1,565
1,565

1,43
1,44
1,44




1,6



2,7



3,5



8,2
2,7
5,2

7,3
1,5
5,5

5,8
2
3,5




-0,1
0
0,12

0,095
0
0

0,04
0,03
0,03




30

30
30,12
29,9

29,9
29,9
29,995

30,025
30,025
30,025



31,465



31,565



31,47







I-A
I-1
I-a
I-b
II-1
II-2
II-c
II-d
III-II
III-B
III-c
III-f
IV-B


Pembahasan
Beda tinggi dapat ditentukan dengan menggunakan garis mendatar yang sembarang dengan kedua mistar yang terpasang pada dua titik yang akan diamati. Hal ini sesuai dengan literatur Sastrodarsono (2005) yang menyatakan bahwa beda tinggi antara dua titik adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui titik itu sedangkan untuk beda tinggi dapat ditentukan dengan menggunakan garis yang mendatar sembarang dan dua mistar dipasang pada dua titik itu sedangkan beda tinggi dapat ditentukan. Untuk melakukan dan mendapat pembacaan pada mistar dinamakan back, diperlukan suatu garis lurus, selain itu pada pengukuran ini diperlukan juga nivo tabung. Pada nivo tabung ini dijumpai suatu garis lurus mendatar dengan ketelitian yang tinggi.
Pengukuran beda tinggi yang kami lakukn pada percobaan ini adalah salah satu dari tiga cara yang ada, yakni dengan cara pengukuran menyipat datar. Hal ini sesuai dengan literatur Frick (1992) yang menyatakan bahwa beda tinggi antara dua titik dapat dibentukkan dengan tiga cara: dengan cara barometris, dengan cara trigonometris dan dengan cara pengukuran penyipatan datar. Ketiga cara ini disusun sedemikian hingga ketelitian dari atas kebawah menjadi besar. Cara yang memberi hasil ketelitian terbesar adalah cara pengukuran menyipat datar, sedangkan cara trigonometris dengan cara pengukuran barometris menentukan beda tinggi antara dua titik.
Untuk menggambarkan keadaan lokasi pada suatu lokasi dengan mudah, dapat dilakukan dengan menbuat beberapa titik detail guna mengetahui secara langsung beda tinggi di suatu arel kawasan yang ingin diamati. Hal ini sesuai dengan literatur Dugdale (1986) yang menyatakan bahwa dengan adanya pengukuran sipat datar memanjang, kita dapat mengetahui perbedaan tinggi dari suatu daerah, dengan mengetahui tinggi berbagai tempat maka kita mengetahui tinggi areal tersebut dan kita menggambarkan secara detail dan tidak menimbulkan kesulitan yang serius. Dan dengan ini juga mempermudah kita dalam menggambarkan keadaan lokasi tersebut apakah curam atau landai dan sebagainya. Profil sipat datar memanjang ini diperlukan dalam membuat frase jalan ke hutan, untuk mengangkut dan transportasi ke dalam hutan dalam penebangan kayu atau hasil hutan lainnya, atau dengan kata lain hubungannya dengan kegiatan pembukaan wilayah hutan, dalam rangka pengelolaan kawasan hutan secara lestari menimbulkan pula pengetahuan tentang pengukuran untuk bangunan-bangunan kehutanan serta untuk pemetaannya dan masih banyak lagi fungsi yang lainnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode tinggi garis bidik.

  2. Pada pengukuran sipat datar memanjang dilakukan paling sedikit dua kali pembacaan yaitu pada rambu belakang dan rambu depan.

  3. Tinggi Diatas Permukaan Laut Universitas Sumatera Utara adalah 30 m.

  4. Pada percobaan ini didapat:
TGB I : 31,465
TGB II : 31,565
TGB III : 31,470

  1. Dari hasil pengamatan di dapatkan adanya perbedaan tinggi antara TGB I, TGB II, TGB III.

  2. Beda tinggi antara dua titik dapat ditentukan dengan cara barometris, trigonometris dan pengukuran menyipat datar.

Saran
Diharapkan agar para praktikan memahami terlebih dahulu konsep pengukuran sipat datar memanjang sebelum mempraktekkannya di lapangan. Para praktikan juga diharapkan serius dan telaten dalam menjalankan praktikum agar data yang didapat maksimal.

PENGUKURAN JARAK HORIZONTAL


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengukuran- pengukuran dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan bayangan daripada keadaan lapangan, dengan menentukan tempat titik-titik di atas permukaan bumi terhadap satu sama lainnya. Untuk mendapatkan hubungan antara titik-titik itu, baik hubungan yang mendatar maupun hubungan-hubungan tegak, diperlukan sudut yang mendatar dan untuk hubungan diperlukan sudut yang tegak (Wongsotjitro, 1985).
Dalam pengukuran tanah, pengukuran linear diperoleh dengan:
a. mengukur metode langkah,
b. pembacaan odometer,
c. pengukuran jarak optis,
d. takimetri atau stadia,
e. batang-batang jarak atau substense bar,
f. pengukuran jarak dengan pita, dan
g. pengukuran jarak elektronoik.
Dari metode-metode ini, pengukuran jarak dengan pita dan EDM adalah yang paling umum dipakai oleh para juru ukur. Metode mengukur metode langkah, pembacaan odometer, pengukuran jarak optis, takimetri atau stadia dan batang-batang jarak atau substense bar merupakan suatu teknik yang berguna dalam membuat sketsa catatan lapangan dan sebagai pengecek dan mengecek pengukuran untuk mencari kesalahan (Brinker, 1986).
Bila jarak antara dua titik A dan B, dari titik-titik mana harus ditentukan beda tingginya, menjadi sebegitu besar, sehingga mistar-mistar tidak dapat dilihat dengan terang dan pembacaan menjadi kurang teliti, ataubila keadaan lapangan sedemikian rupa, hingga garis bidik tidak memotong mistar-mistar karena jatuh di atas atau di bawah mistar, maka terpaksalah jarak antara dua titik A dan B itu harus dibagi dalam jarak-jarak yang lebih kecil, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan baik. Jarak-jarak pengukuran diambil antara 30 m sampai 60m yang disesuaikan dengan keadaan lapangan, tetapi ambillah jarak maksimum yaitu 60 m. untuk menentukan beda tinggi t misalnya antara titik A dan titik B yang jaraknya besar maka cara pengukuran berjalan sebagai berikut. Ada beberapa cara mencatat pembacaan-pembacaan dan menghitung pengukuran-pengukuran yang tergantung pada maksud pengukuran. Pada semua cara digunakan pencatatan dari hitungan secara tabelis. Semua pembacaan dan jarak ditulis digaris yang terletak diantara titik-titik yang ditempati oleh mistar, diamna titik-titik ditulis dalam daftar. Titik-titik alat ukur tidak ditulis dalam daftar, maka maksud mengukur menyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik. Setelah beda tinggi ditentukan, maka tinggi suatu titik dapat dicari, beda tinggi di titik-titik lainnya telah diketahui pada awal sebelum pengukuran (Gayo, 1992).

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pengukuran Jarak Horizontal adalag untuk mempelajari pengukuran jarak horizontal antara dua titik atau objek yang dijadikan sebagai batas-batas pengukuran.

















TINJAUAN PUSTAKA

Pengukuran suatu bidang memiliki bagian penting, yakni membuat garis lurus. Dapat dimengerti bahwa garis lurus ini tidak dapat dibuat seperti menarik garis lurus di atas kertas. Dari garis lurus yang harus dibuat, harus diketahui kedua titik ujungnya. Maka untuk menentukan garis lurus ini, ditentukan titik-titik di lapangan yang letak di garis lurus yang menghubungkan dua titik ujung dengan jumlah yang cukup banyak, sehingga garis lurus itu kelihatan dengan jelas. Titik-titik ini dinyatakan dengan syalon. Tiap-tiap bagian garis lurus yang letak antara dua syalon dianggap sebagai garis lurus. Pengukuran- pengukuran dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan bayangan daripada keadaan lapangan, dengan menentukan tempat titik-titik di atas permukaan bumi terhadap satu sama lainnya. Untuk mendapatkan hubungan antara titik-titik itu, baik hubungan yang mendatar maupun hubungan-hubungan tegak, diperlukan sudut yang mendatar dan untuk hubungan diperlukan sudut yang tegak (Wongsotjitro, 1985).
Pengukuran jarak horizontal dengan pita terdiri atas penetapan panjang yang diketahui pada pita berpembagian skala langsung pada sebuah garis beberapa kali. Dua jenis masalah yang timbul adalah mengukur jarak antara dua jenis tertentu, misalnya dua petak di tanah dan memasang sebuah jarak di satu titik awal saja yang tertentu tempatnya. Pengukuran dengan pita dilaksanakan dalm enam langkah; meluruskan, memberi tegangan, pengguntingan, penandaan panjang pita, pembacaan pita, pembacaan jarak dan pencatatan jarak. Penerapan langkah-langkah denngan pengukuran pita ini dapat dilakukan pada bidang datar dan miring (Brinker, 1986).
Alat sipat datar diletakkan dua kali natara dua mistar dengan jarak-jarak kedua mistar yang berlainan, dimisalkan untuk pertama kali dengan jarak ke kiri = d1 jarak ke kanan = d2. Kemudian jarak-jarak itu menjadi d3 dan d4. Pada kedua tempat alat ukur sipat datr didapat pembacaan-penbacaan ke kiri dan ke muka : a­1 dan b1 dan kemudian c1 dan e1. Dimisalkan pembacaan-pembaaan dengan gano bidak yang mendatar a0 dan b0 dan kemudian ke c0 dan e0 (Gayo, 1992).

Adapun metode yang digunakan dalam pengukuran jarak horizontal adalah:
1. Metode langkah
Metode langkah adalah metode yang digunakan dengan melangkahkan kaki sejauh jarak yang diatur (biasanya 30 m) secara bolak-balik.
2. Metode stadia
Metode stadia adalah metode yang digunakan dari lanjutan pola metode langkah dengan terlebih dahulu mengkonversikan langkah-langkah dengan menentukan jarak sejauh 10 m.
3. Metode odometer
Metode odometer ini juga merupakan salah satu metode sederhana dari lima (5) metode yang akan dipelajari. Metode odometer menggunakan putaran roda sebagai pengukur jaraknya.
4. Metode skala atau peta
Metode skala atau lebih dikenal dengan sebutan metode pete merupakan metode yang digunakan dengan menggunakan objek peta sebagai objek yang diamati. Dengan memindahkan objek ke atas kertas dengan penggunaan pengecilan skala tertentu.
5. Metode dengan menggunakan pita ukur
Metode dengan menggunakan pita ukur ini menerapkan sistem mengukur suatu jarak dengan menggunakan alat pengukur jarak berupa pita ukur.
6. Metode dengan menggunakan alat optis
Metode dengan menggunakan alat optis ini merupakan sistem mengukur suatu jarakdengan menggunakan alat pengukur berupa theodolit.
Pengukuran jarak horizontal itu sendiri berarti suatu kegiatan pengukuran permukaan bumi maupun sebagian permukaan bumi yang diproyeksikan ke atas kertas dalam hal ini peta dengan menggunakan skala pengukuran atau pengecilan tertentu. Pengukuran- prngukuran pada areal-areal seperti ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Ligfensink, 1937).


METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
Adapun praktikum yang berjudul Pengukuran Jarak Horizontal dilaksanakan pada hari Rabu, 27 Agustus 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah:
Buku tulis untuk mencatat materi yang diajarkan
Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari Geodesi dan Kartografi
Hutan (arboretum) Tridarma
Adapun alat yang digunakan adalah:
Pulpen sebagai alat untuk menulis
Theodolit manual dan digital sebagai alat pengukur sudut
Jalon sebagai penanda objek yang diamati
Rambu ukur sebagai alat yang menentukan ukuran yang diamati, baik jarak maupun tinggi
Statif sebagai landasan theodolit
Pita ukur sebagai pengukur jarak

Prosedur Praktikum
A. Metode Langkah
Diukur dua buah titik sejauh 30 m dengan menggunakan pita ukur dan pada masing-masing titik dipasang jalon.
Diukur jarak antara dua titik tersebut dengan melangkah dari titik A ke B dan dari B ke A.
Dihitung jumlah langkah dari titik A ke B dan dari B ke A.
Dicatat jumlah langkah pada kertas data.
Dihitung rata-rata jumlah langkah yang dilakukan oleh masing-masing praktikan .
Dikonvensikan jumlah rata-rata langkah dalam satuan meter dengan rumus:
Konvensi langkah = (1/∑rata-rata langkah)x 30m
Rata- rata konvensi langkah = x/ jumlah praktikan
Format tabel metode langkah
No
Nama Praktikan
Langkah A-B
Langkah B-A
Rata-rata
Konveri langkah
1





2





3






B. Metode Stadia

  1. Ditentukan jarak 10 m menggunakan konvensi langkah dengan rumus:
10/ rata-rata konversi langkah

  1. Dipasang jalon pada titik tujuan dan diletakkan rambu ukur sebagai skala baca pengukuran

  2. Dilakukan pengukuran dengan menggunakan theodolit

  3. Dihitung jarak theodolit manual dan digital dengan rumus :
Jarak Theodolit Manual dan Digital : (BA-BB) X 100

  1. Dicatat hasil pengukuran yang telah dilakukan baik sudut azimuth, jarak, dan kelerengannya.
Format tabel metode stadia
Theodolit
Bacaan Atas
Bacaan Bawah
Jarak
Azimuth
Kelerengan
Manual





Digital











HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 2.1 Metode Langkah
No
Nama Praktikan
Langkah A-B
Langkah B-A
Rata-rata
Konversi Langkah
1
Julius
46
49
47,5
0,63
2
Ade
46
49
47,5
1,50
3
Riza
45
45
45
0,63
4
John
45
45
45
1,50
5
Agnes
44
46
45
1,50
6
Rahma
47
47
47
0,64
7
Orina
46
47
46,5
0,65





∑= 7,05

Tabel 2.2 Metode Stadia
Theodolit
Bacaan Atas
Bacaan Bawah
Jarak
Azimuth
Kelerengan
Manual
10
9,6
40


Digital
10
9,5
50
23038’40”
89025’30”
Pembahasan
Dalam menarik suatu garis berupa garis lurus tidak boleh secara asal-asalan, seperti halnya merarik garis lurus kea rah atas. Setiap bentuk alam yang tergambar di atas tanah harus diikuti dengan menggunakan alat pengukur jarak seperti pita ukur. Hal ini sesuai literatur Wongsotjitro (1997) yang menyatakan bahwa pengukuran suatu bidang memiliki bagian penting, yakni membuat garis lurus. Dapat dimengerti bahwa garis lurus ini tidak dapat dibuat seperti menarik garis lurus di atas kertas. Dari garis lurus yang harus dibuat, harus diketahui kedua titik ujungnya. Maka untuk menentukan garis lurus ini, ditentukan titik-titik di lapangan yang letak di garis lurus yang menghubungkan dua titik ujung dengan jumlah yang cukup banyak, sehingga garis lurus itu kelihatan dengan jelas.

Pengukuran dengan menggunakan pita ukur dapat dilakukan pada dua bidang yakni bidang datar dan bidang miring, diamana setiap bidang memerlukan cara pengukuran dan cara tersendiri. Hal ini sesuai dengan literatur Brinker (1986) yang menyatakan bahwa dua jenis masalah yang timbul adalah mengukur jarak antara dua jenis tertentu, misalnya dua petak di tanah dan memasang sebuah jarak di satu titik awal saja yang tertentu tempatnya. Pengukuran dengan pita dilaksanakan dalm enam langkah; meluruskan, memberi tegangan, pengguntingan, penandaan panjang pita, pembacaan pita, pembacaan jarak dan pencatatan jarak. Penerapan langkah-langkah denngan pengukuran pita ini dapat dilakukan pada bidang datar dan miring.
Dua metode yang digunakan dari lima metode yang paling sederhana yaitu metode langkah dan metode stadia. Hal ini sesuai dengan literatur Ligfensink (1937) yang menyatakan bahwa ada enam metode yang digunakan dalam pengukuran jarak horizontal, yakni metode langkah, metode stadia, metode odometer, metode skala atau peta, dengan menggunakan pita ukur dan dengan menggunakan alat optis berupa theodolit. Namun, dari enam metode tersebut metode langkah dan stadialah yang paling sederhana penerapannya dan saling berhubungan.
Jarak penglihatan yang dipakai dalam praktikum adalah 30 m. hal ini sesuai dengan literatur Gayo (1992) yang menyatakan bahwa jarak-jarak pengukuran diambil antara 30 m sampai 60m yang disesuaikan dengan keadaan lapangan, tetapi ambillah jarak maksimum yaitu 60 m. untuk menentukan beda tinggi t misalnya antara titik A dan titik B yang jaraknya besar maka cara pengukuran berjalan sebagai berikut. Ada beberapa cara mencatat pembacaan-pembacaan dan menghitung pengukuran-pengukuran yang tergantung pada maksud pengukuran. Pada semua cara digunakan pencatatan dari hitungan secara tabelis. Semua pembacaan dan jarak ditulis digaris yang terletak diantara titik-titik yang ditempati oleh mistar, diamna titik-titik ditulis dalam daftar. Titik-titik alat ukur tidak ditulis dalam daftar, maka maksud mengukur menyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Dalam melakukan pengukuran tekstur tanah/ struktur tanah jangan mempengaruhi keakuratan data.

  2. Konvensi suatu langkah merupakan perbandingan antara jarak yang telah ditentukan dalam hal ini 30 m dengan rata-rata antara jarak pergi pulang. Adapun langkah sample yang diambil adalah langkah yang paling sedikit.

  3. Alat yang digunakan dalam pengukuran jarak horizontal adalah pita ukur, theodolit manual, theodolit digital, jalon, statif dan rambu ukur.

  4. Pengukuran jarak metode stadia bergantung pada metode langkah.

  5. Konversi langkah terbesar pada kelompok I adalah 1,50 dan konversi langkah terkecil adalah 0,63.

  6. pengukuran jarak dengan menggunakan metode langkah, harus menggunakan langkah-langkah yang konstan dan tidak dibuat-buat.

  7. Keakuratan dalam menggunakan theodolit baik digital maupun manual tergantung pada pemakai, alat itu sendiri dan faktor alam.

  8. Menghitung jarak dengan theodolit dapat dirumuskan dengan rumus jarak pergi dikurang jarak dating dikali 100 (seratus).

Saran
Diharapkan agar para praktikan memahami terlebih dahulu konsep pengukuran jarak horizontal sebelum mempraktekkannya di lapangan. Para praktikan juga diharapkan serius dan telaten dalam menjalankan praktikum agar data yang didapat maksimal.

PENGENALAN ALAT KEHUTANAN

PENDAHULUAN 

Latar Belakang
Ada bermacam-macam perkakas yang diperlukan untuk sigi linier, mulai dari mistar lipat 1m yang sederhana sampai rantai baja 20m yang berat, alat-alat lainnya yaitu: Maistar lipat kayu, dibuat dari kayu bermutu tinggi dengan satu sendi kuningan di tengah dan dua engsel lipat. Mistar- saku baja, mistar yang hanya berskala satu sisi saja. Pita baja, terbuat dari baja beremail putih, lebar 9,5 m dan tebal 0,2 mm dengan skala hitam dan tanda merah setiap 1 m. Pita sintetik, dibuat dari serat kaca berlapis PVC, skala paling halus 10 mm. Rantai ukur, panjangnya 20 m, tersusun atas mata rantai yang dibuat dari kawat baja 10 S-W-G, dihubungkan oleh tiga mata rantai oval kecil. Pita ukur, jalon, anak panah, markan (per), dan lain-lain (Ligfesink, 1997). Salah satu dari lima metode pengukuran jarak ialah metode dengan pita ukur dan odometer. Metode pengukuran jarak dengan odometer merupakan metode sederhana yang hamper mirip dengan metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak yang dihitung dengan persamaan : jarak= putaran roda x keliling roda. Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur, dimana jalurnya berbelok-belok dan naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam rangka pengaspalan atau pertanian sendiri dalam rangka pengukuran luas lahan bergelombang dan bentuk petaknya tidak beraturan. Pada ukur tanah yang umumnya bertujuan untuk pembuatan peta, jarak yang dimaksud adalah jarak horizontal dan jarak mendatar. Di dunia pelestarian luas lahan yang ditentukan oleh jarak ini ada kaitannya dengan luasan lahan yang dapat ditanami dan diproduksi yang akan diperoleh, maka jarak sesuai kondisi lahan itulah yang paling cocok atau dengan kondisi lahan itulah jarak miringnya sebaiknya diukur (Brinker, dkk, 1986). Untuk pekerjaan pengukuran, baik pengukuran jarak maupun pengukuran sudut, diperlukan titik-titik di lapangan. Titik-titik di atas permukaan bumi ini ada yang mempunyai sifat tetap ada pula yang memiliki sifat sementara. Titik-titik ini yang dibuat di lapangan harus dapat ditemukan dengan mudah. Titik-titik yang bersifat tetap, sehingga selalu dapat digunakan untuk pengukuran-pengukuran adalah, pertama : titik-titik triangulasi yang dibuat dalam daerah yang besar seperti di Indonesia untuk tiap-tiap pulau di dalam kota-kota (Wongsotjitro,1985). Tujuan Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pengenalan Alat adalah: Untuk mengetahui dan mengenal alat-alat yang digunakan dalam praktikum Geodesi dan kartigrafi. Untuk mengetahui fungsi dan bagian dari masing-masing alat tersebut. Untuk dapat menggunakan alat-alat tersebut dalam kegiatan pengukuran. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing alat. 

TINJAUAN PUSTAKA 
Pengukuran jarak horizontal dengan pita terdiri atas penetapan panjang yang diketahui. Pada pita berpembagian skala langsung pada sebuah garis beberapa kali. Dua garis timbul tersebut adalah mengukur jarak antara dua titik, misalnya dua patok tanah dan memasang sebuah jarak di satu titik awal saja yang tertentu tempatnya. Pengukuran dengan pita dilakukan dengan 6 langkah, yaitu meluruskan, memberikan tegangan, pengguntingan, menandai panjang pita, membaca pita dan mencatat jarak. Penerapan langkah-langkah pengukuran dengan pita ini pada tanah yang bertipe datar dan miring (Brinker, dkk, 1986). Konstruksi alat ukur selalu disesuaikan dengan maksud penggunaan alat ukur itu. ada alat yang digunakan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik (alat penyipat datar atau alat ukur waterpass), ada alat yang digunakan untuk pengukuran guna pembuatan peta (bouselle tranche montagne, plancet). Meskipun konstruksi alat ini berlainan, tetapi alat-alat ukur tanah ini pada dasarnya mempunyai fungsi yang sama (Wongsotjitro, 1985). Dalam perkiraan survey banyak sekali peralatan yang digunakan. Salah satunya adalh pita ukur. Pita ukur digunakan untuk mengukur jarak di lapangan. Pita ukur ada yang dari kain linen berlapis plastic atau tidak. Pita ukur tersedia dalam ukuran panjang 10 meter, 15 meter, 30 meter sampai 50 meter. Pita ukur ini biasanya dibagi dalam interval 5 mm atau 10 mm. selain pita ukur, alat lain yang digunakan adalah kompas. Kompas digunakan sebagai pengukur sudut di lapangan dengan mengacu kepada salah satu kutub magnet bumi. Bacaan sudut kompas memiliki interval 10 – 20 (Ligfesink, 1997). Pengukuran jarak dengan meteran biasnya dikenal dengan istilah taping, yaitu pengukuran jarak dengan menggunakan tape atau pita ukur berupa rol meter atau rantai ukur. Rol meter merupakan alat yang paling umum digunakan. Cara pengukuran dengan menggunakan meteran ini ditentukan dengan kondisi lahan (miring atau datar) dan jarak yang dikehendaki (jarak mendatar atau jarak miring). Pengukuran jarak mendatar pada lahan yang mendatar relatif lebih mudah dibanding pada lahan miring. Caranya dapat dilakukan dengan memasang atau meletakkan angka nol meteran pada patok titik satu dan menarik atau merentangkan rol meter ke titik ke dua selurus dan sedapat mungkin dengan tarikan yang cukup, sehingga meteran tidak melengkung atau melar memanjang. Selain kedua cara tadi dapat juga dilakukan dengan cara meletakkan atau mengimpitkan pita meteran ke patok di titik dua dan membaca angka meteran yang tepat dengan patok di dua titik tersebut. Bacaan ini menunjukkan bahwa jarak antara titik pertama dan titik kedua yang diukur (Yulfa, 2007). Kompas telah dipakai oleh para navigator dan lain-lain selama berabad-abad umtuk menentukan arah. Sebelum ditemukan teodolit, kompas dan sextan, kompas merupakan jalan satu-satunya yang praktis bagi juru ukur untuk mengukur arah dan sudut horizontal. Selain kompas terdiri atas sebuah jarum baja bermagnet dipasang pada sebuag sumbu putar dan titik pusat lingkaran pembagian skala. Kalau tidak terganggu oleh gaya tarik local, jarum menunjuk kea rah utara magnetik. Gaya magnet bumi mengatur arah jarum dan menarik atas menunjukan satu ujungnya dan bawa kedudukan horizontal. Sudut jarum bekisar dari 00 dekat diberati kumparan kawat yang amat kecil untuk mengimbangi pengarah jarum, dan membuatnya agar selalu horizontal. Kedudukan kumparan kawat dapat diatur untuk menyesuaikan terhadap lintang dimana kompas dipakai. Pemberatan jarum kompas theodolit dipasang untuk lintang rata-rata 400 utara. Ketika kompas diputar jarum tetap menunjuk kearah utara magnetic jam memberikan pembacaan yang tergantung pada kedudukan lingkaran pembagian skala (Irivine, 1980). 

METODOLOGI PRAKTIKUM 
Waktu dan Tempat 
Adapun praktikum yang berjudul Pengenalan Alat dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Agustus 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. 
Bahan dan Alat 
Adapun bahan yang digunakan adalah: Buku tulis untuk mencatat materi yang diajarkan Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari Geodesi dan Kartografi Adapun alat yang digunakan adalah: Alat menulis dan menggambar (pulpen, pinsil, rol dan pinsil warana) sebagai alat untum neggambar. Theodolit manual dan digital sebagai alat pengukur sudut Jalon sebagai penanda objek yang diamati Rambu ukur sebagai alat yang menentukan ukuran yang diamati, baik jarak maupun tinggi Statif sebagai landasan theodolit Pita ukur sebagai pengukur jarak Abney level sebagai alat pengukur kemiringan Compas clino sebagai alat pengukur sudut Planimeter sebagai alat penghitung atau penentu luas Phiband sebagai alat pengukur diameter pohon Altimeter sebagai alat pengukur kedalaman Kompas sebagai penentu arah

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pita ukur Gambar 1.1 Pita Ukur Fungsi : mengukur jarak dan diameter. Kelebihan : 1. Mudah dibawa. 2. Dalam hal mengukur jarak, tinggal melihat angka yang tertera. Kekurangan : 1. Sulit digunakan dalam hal mengukur diameter. 2. Kurang teliti. Kompas clino Gambar 1.2 Kompas Clino Fungsi : untuk mengetahui arah angin dan sudut. Kelebihan : 1. Mudah dibawa 2. Ringan Kekurangan : 1. Skala terbalik. 2. Sulit melihat sudut yang tertera. Altimeter Gambar 1.3 Altimeter Fungsi : untuk mengukur kedalaman laut. Kelebihan : 1. Mudah dibawa (ringan dan simple) Kekurangan : 1. Peka terhadap gangguan Theodolit digital Gambar 1.4 Theodolit Digital Fungsi : untuk mengukur jarak lempeng, sudut azimuth dan vertikal. Kelebihan : 1. Hasil data yang diperoleh lebih cepat. 2. Cara penggunaanya mudah. 3. Data yang diperoleh akurat. Kekurangan : 1. Bobotnya berat. 2. Harganya mahal. 3. Untuk mendapat data yang akurat, pengaturan harus stabil. Statif Gambar 1.5 Statif Fungsi : sebagai landasan berdirinya theodolit. Theodolit manual Gambar 1.6 Theodolit manual Fungsi : untuk mengukur jarak lempeng, sudut azimuth dan vertikal. Kelebihan : 1. Harga lebih mudah disbanding yang digital. 2. Pengaturan tidak sesulit penyetabilan arah digital. Kekurangan : 1. Bobotnya berat. 2. Data yang diperoleh kurang akurat. Rambu ukur Gambar 1.7 Rambu Ukur Fungsi : sebagai patokan ukuran tinggi dan jarak suatu areal. Planimeter Gambar 1.8 Planimeter Fungsi : Untuk mengukur luasan suatu daerah. Kelebihan : 1. Ringan 2. Dapat digunakan pada areal tidak beraturan. Kekurangan : 1. Harus menggambar proyeksi peta terlebih dahulu. 2. Data yang didapat kurang akurat. Abney level Gambar 1.9 Abney Level Fungsi : untuk mengetahui kelerengan tapak. Kelebihan : 1. Bobotnya ringan 2. Harganya tidak terlalu mahal. Kekurangan : 1. Data yang diperoleh kurang akurat. 

KESIMPULAN DAN SARAN 
Kesimpulan Alat-alat yang digunakan dalam bidang ilmu Geodesi dan Kartografi focus terhadap pemetaan yang bertujuan dalam pengukuran jarak, sudut serta beda tinggi. Alat kehutanan yang paling canggih adalah theodolit digital dalam hal menentukan sudut azimuth. Alat kehutanan yang paling sederhana adalah pita ukur. Alat yang digunakan sebagi sarana pendukung adalah jalon, rambu ukur dan ststif. Alat yang digunakan untuk mengukur jarak berupa pita uku. Alat- alat yang bisa digunakan dalam mengukur sudut adalah theodolit (digital maupun manual), clinometer dan abney level. Clinometer dapat digunakan dengan jarak minimal 15 meter. Ketelitian dalam hal pengukuran tidak hanya tergantung pada alat, namun pada pengukur dan juga faktor alamnya. Dalam menggunakan theodolit, gelembung air yang terdapat pada nivo horizontal maupun vertikal harus benar-benar berada di tengah. Planimeter digunakan untuk mengukur luasan suatu lahan dengan skala pengecilan tertentu daerah teratur maupun tidak. Saran Diharapkan agar para praktikan memahami terlebih dahulu menenenal alat dengan cara melihat secara gambaran sebelum melihat secara nyata. Para praktikan juga diharapkan serius dalam menggambar alat dan mengenal berbagai jenis, bagian dan fungsi atau kegunaan alat tersebut.

RIWAYAT HIDUP


Penulis merupakan anak dari Bapak Bikner Sigiro dan Rotua Dame Siahaan. Penulis lahir di Tangerang pada tanggal 26 Juli 1987. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Sejak kecil penulis sudah dibiasakan disiplin. Penulis menjalani masa kanak-kanak di TK Katolik Taman Cibodas selama 2 tahun dan lulus tahun 1994. Penulis menjalani masa SDnya di dua lokasi yang berbeda. Tahun pertama hingga keempat penulis mengenyam pendidikan di SDN Gandasari 1 Tangerang dan dua tahun berikutnya di SDN 09415, Panai Tongah dan lulus pada tahun 2000. kemudian pada tahun 2003 penulis lulus dari SLTP Swasta Teladan Sumatera Utara. Pada tahun 2006 penulis lulus dari SMU Swasta Santo Thomas 3 Medan dan pada tahun 2006 penulis mencoba mengambil program Panduan Minat Belajar Universitas Sumatera Utara Jurusan Ilmu Komunikasi dan Teknik Industri Kimia. Namur penulis gagal, sestelah sebelumnya menolak tawaran untuk masuk Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jember. Pada tahun yang sama penulis lolos Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Jurusan Teknologi Hasil Hutan dan gagal di Industri Teknik Kimia, namun karena kendala biaya penulis mengurungkan niatnya untuk kuliah. Pada tahun berikutnya penulis lolos pilihan kedua Teknologi Hasil Hutan disamping pilihan pertamanya Manajemen Hutan.
Pada tahun 2005 penulis telah menjadi guru private SD dan menjadi seorang Sekretaris keuangan di salah satu toko milik saudara. Pada tahun 2006 setelah kelulusan penulis penulis masih aktif mengajar, usaha kredit dan menjadi Sales Promotion Boy dalam bidang gas dan LPG di salah satu perusahaan swasta. Karena kendala dana yang terus meningkat, maka penulis dipaksa untuk melakukan kerja sampingan. Penulis berfikir secara matang dan memutuskan kembali mengajar. Semasa tahun kuliah penulis memperlihatkan indeks prestasi yang baik. Penulis juga memiliki prestasi seperti juara III pakaian adat Jawa tahun 1993, Dokter Remaja 2004, juara I Pidato Bahasa Indonesia 2004,  Seksi Intelektual OSIS 2004, Relawan Anti Narkoba 2004, juara II Pidato Bahasa Indonesia 2005, Wakil Ketua OSIS 2005, juara II Pidato Bahasa Indonesia 2006, juara II Puisi 2006, Diklat Balai Grafika Penerbitan Buletin Sekolah 2007, Asisten Praktikum Pemanenan Hasil Hutan 2010, Asisten Praktikum Inventarisasi Hutan 2010, Asisten Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan 2010, lolos seleksi program kreatifitas mahasiswa penelitian bidang teknologi rekayasa dengan judul peningkatan papan komposit dari limbah batang sawit dengan penambahan water repellent dan melakukan penelitian dengan judul karakteristik papan komposit polimer dari bambu dan plastik daur ulang yang dirampungkannya pada Mei 2011.